AQD 07 – PRINSIP-PRINSIP DASAR KEIMANAN 05

IMAN KEPADA PARA MALAIKAT

Malaikat adalah makhluk ghaib yang selalu beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Malaikat sama sekali tidak memiliki keistimewaan rububiyah dan uluhiyah. Allah menciptakannya dari cahaya, lalu memberikan kekuatan yang sempurna kepada mereka untuk tunduk dan selalu melaksanakan ketaatan kepada- Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“… dan Malaikat yang ada di sisi-Nya, mereka tidak angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak (pula) merasa letih, mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (QS. Al Anbiya’: 19-20).

Jumlah Malaikat sangat banyak, tidak ada yang dapat menghitungnya, kecuali Allah. Dalam hadits
Bukhari dan Muslim diriwayatkan dari Anas  tentang kisah isra-mi’raj bahwa Allah telah
memperlihatkan Al-Baitul Ma’mur yang ada di langit kepada Nabi . Di dalamnya selalu ada 70.000 Malaikat yang setiap hari melakukan shalat. Siapa yang keluar dari tempat itu, tidak kembali lagi.

Iman kepada Malaikat mencakup empat hal:
1. Mengimani wujud (keberadaan) mereka.
2. Mengimani mereka yang kita kenali namanamanya, seperti Jibril, dan juga mengimani
secara global Malaikat yang tidak kita kenal nama-namanya.
3. Mengimani sifat-sifat mereka yang kita kenali, seperti sifat bentuk Jibril, sebagaimana yang
pernah dilihat Nabi shalallahu alaihi wassalam, ia memiliki 600 sayap yang menutupi ufuk.

Malaikat bisa saja menjelma menyerupai seorang laki-laki, seperti yang pernah terjadi pada Malaikat Jibril tatkala Allah subhanahu wa ta’ala mengutusnya kepada Maryam. Jibril menjelma jadi seorang manusia yang sempurna. Demikian pula ketika Jibril datang kepada Nabi , sewaktu beliau sedang duduk di tengahtengah para sahabatnya.

Jibril datang dengan bentuk seorang lelaki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat tanda-tanda dia baru saja melakukan perjalanan jauh, namun tidak seorangpun yang mengenalinya. Jibril duduk di dekat Nabi shalallahu alaihi wassalam, menyandarkan kedua lututnya ke lutut Nabi, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha nabi. Ia bertanya kepada Nabi shalallahu alaihi wassalam tentang Islam, iman, ihsan, hari kiamat, dan tandatandanya, setelah tidak di situ lagi, barulah Nabi shalallahu alaihi wassalam menjelaskan kepada para sahabatnya, “itu adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan kalian tentang agama kalian.” (HR.Muslim).

Demikian halnya dengan para Malaikat yang diutus kepada Nabi Ibrahim dan Luth`alaihimassalam. Mereka mejelma dalam bentuk lakilaki.
4. Mengimani tugas-tugas yang diperintahkan Allah kepada mereka yang sudah kita ketahui,
seperti selalu bertasbih, dan beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala siang dan malam tanpa merasa lelah dan jemu. Diantara mereka ada yang mempunyai tugas-tugas tertentu, misalnya :

1. Malaikat Jibril yang dipercayakan menyampaikan wahyu kepada para Nabi dan Rasul.
2. Malaikat Mikail yang diserahi tugas menurunkan hujan dan menumbuhkan tanaman.
3. Malaikat Israfil yang diserahi tugas meniup sangkakala di hari kiamat dan di hari kebangkitan makhluk.
4. Malaikat Maut yang diserahi tugas mencabut nyawa orang.
5. Malaikat Malik yang diserahi tugas menjaga neraka.
6. Para Malaikat yang diserahi tugas yang berkaitan dengan janin dalam rahim, ketika
janin berumur empat bulan di dalam kandungan, Allah subhanahu wa ta’ala mengutus  Malaikat untuk meniupkan ruh dan menyuruh untuk menulis rezki, ajal, amal, derita dan bahagianya.
7. Para Malaikat yang diserahi tugas menjaga dan menulis semua perbuatan manusia.
Setiap orang dijaga oleh dua Malaikat, yang satu pada sisi kanan dan yang satunya lagi
pada sisi kiri.
8. Para Malaikat yang diserahi tugas menanyai mayat. Bila mayat sudah dimasukkan ke
dalam kuburnya, maka akan datanglah dua malaikat yang bertanya kepadanya tentang;
Rabb, agama dan Nabinya.

Buah iman kepada Malaikat.
1. Mengetahui keagungan Allah, kekuatan dan kekuasan-Nya. Karena kebesaran makhluk
pada hakikatnya menunjukkan keagungan sang (khaliq) Pencipta.
2. Syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas perhatian-Nya terhadap manusia sehingga menugasi Malaikat untuk memelihara, mencatat amal-amal dan berbagai kemaslahatannya yang lain.
3. Cinta kepada para Malaikat karena ibadah yang mereka lakukan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. sekelompok orang sesat mengingkari keberadaan Malaikat, mereka mengatakan bahwa Malaikat ibarat “kekuatan kebaikan” yang terpendam pada diri makhluk, kelompok ini berarti tidak mempercayai kitabullah, sunnah Rasul, dan ijma’ (konsensus) umat Islam.

Allah berfirman:

“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan Malaikat sebagai utusan-utusan
(untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua,
tiga dan empat.” (QS. Fathir: 1).

Allah berfirman:
“Kalau kamu melihat ketika para Malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata),“Rasakan olehmu siksa neraka yang membakar.” (QS. Al-Anfal: 50).

Allah berfirman:
“…alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam
tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil
berkata) , “Keluarlah nyawamu…” (QS. Al-An’am : 93).

Allah berfirman:
“…sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata,“apakah telah
difirmankan oleh Rabbmu?” mereka menjawab,“(perkataan) yang benar”, dan Dialah yang
Maha tinggi lagi Maha besar.” (QS. Saba’: 23).

Allah berfirman tentang penduduk surga:
“…Malaikat-Malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan),
“salamun alaikum bima shabartum (salam sejahtera kepadamu dengan kesabaranmu). “Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 23-24).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah , bahwa Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda:
“Apabila Allah mencintai seorang hamba-Nya, ia memberitahu Jibril bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mencintai fulan, dan menyuruh Jibril untuk mencintainya, maka Jibrilpun mencintainya. Jibril lalu memberitahu para penghuni langit bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mencintai fulan dan menyuruh mereka untuk mencintainya maka penghuni langitpun mencintainya, kemudian para penghuni bumi mencintainya.” (HR. Bukhari).

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah , Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda:

“Di setiap hari jum’at pada setiap pintu masjid ada para Malaikat yang mencatat satu demi satu
orang yang datang. Bila imam sudah berada (di atas mimbar) mereka menutup buku catantanya dan masuk ke dalam untuk mendengarkan zdikir (khutbah).”

Dari nash-nash di atas tampak jelas bahwa para Malaikat itu benar-benar ada, bukan sekedar
kekuatan maknawi yang terpendam dalam diri manusia seperti dugaan kelompok sesat tersebut.
Keyakinan ini telah disepakati oleh umat Islam.

 

Wallahu’alam bishawab

Download Sumber