AQD 07 – PRINSIP-PRINSIP DASAR KEIMANAN 03

RUKUN ISLAM

Islam didirikan atas lima dasar, sebagaimana yang tersebut dalam sebuah hadits yang diriwayatkan
oleh Ibnu Umar , Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda :

“Islam didirikan atas lima dasar; yakni : (1) Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah
selain Allah, dan Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) puasa Ramadhan, dan (5) ibadah haji.” (HR.Bukhari Muslim).

1. Kesaksian tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta
Rasul-Nya merupakan keyakinan yang kokoh, yang diungkapkan dengan lisan. Dengan kekokohannya itu, seakan-akan dapat menyaksikan-Nya.

Syahadat (kesaksian) merupakan satu rukun, padahal yang disaksikan itu ada dua hal, ini
dikarenakan Rasul shalallahu alaihi wassalam adalah muballigh (penyampai) sesuatu dari Allah subhanahu wa ta’ala. Jadi, kesaksian bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan  Allah merupakan kesempurnaan kesaksian: “Tiada tuhan (yang berhak diibadahi) selain Allah”.

Atau, karena kesaksian (syahadat) itu merupakan dasar sah dan diterimanya semua amal.
Amal tidak sah dan tidak akan diterima bila dilakukan tanpa keikhlasan karena Allah subhanahu wa ta’ala dan tanpa mengikuti manhaj Rasul-Nya shalallahu alaihi wassalam. Jadi syahadat bahwa “Tiada tuhan (yang berhak diibadahi) selain Allah” haruslah diwujudkan dengan keikhlasan beribadah kepada-Nya, dan syahadat “bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah ” diwujudkan dengan mengikuti tuntunan beliau dalam beribadah kepada Allah.

Diantara hikmah syahadat (kesaksian) yang terbesar ialah membebaskan hati dan jiwa dari
penghambaan terhadap makhluk, dan membebaskannya dari mengikuti selain para Rasul-Nya.

2. Mendirikan shalat maknanya: menyembah Allah dengan mengerjakan shalat secara istiqamah
serta sempurna, baik waktu maupun caranya. Diantara hikmah shalat adalah  merasakan kelapangan dada, ketenangan hati, dan menjauhkan diri dari perbuatan keji dan mungkar.

3. Membayar zakat maknanya: menyembah Allah subhanahu wa ta’ala dengan mengeluarkan kadar (ukuran) yang wajib dari harta-harta yang harus dizakati. Diantara hikmah mengeluarkan zakat adalah membersihkan jiwa dan moral yang tercela yakni kekikiran, serta dapat mencukupi kebutuhan kaum muslimin yang dhu`afa.

4. Puasa Ramadhan maknanya: menyembah Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara meninggalkan hal-hal yang dapat membatalkannya di siang hari bulan Ramadhan. Salah satu hikmahnya adalah melatih jiwa untuk meninggalkan hal-hal yang dicintai demi mencari ridha Allah Azza wa jalla.

5. Naik haji ke Baitullah (rumah Allah), maknanya: menyembah Allah subhanahu wa ta’ala dengan melakukan perjalanan menuju Bait al Haram (Rumah suci) untuk melaksanakan manasik haji.
Diantara hikmahnya adalah: melatih jiwa untuk mengerahkan segala kemampuan harta dan jiwa agar tetap taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu haji merupakan salah satu bentuk jihad fi sabilillah.

Hikmah rukun Islam, baik yang sudah kami sebutkan maupun yang belum kami sebutkan, akan
dapat menjadikan umat sebagai umat yang suci, bersih, beragama yang benar, dan memperlakukan
manusia dengan penuh keadilan serta kejujuran. Dan ukuran baiknya syariat-syariat Islam yang lain tergantung pada baiknya rukun islam yang lima ini.

Dan ukuran baiknya umatpun tergantung pada baiknya agamanya, dan hilangnya kebaikan tingkah
laku umatpun akan tergantung pada kadar hilangnya kebaikan agamanya. Bagi yang ingin mengetahui penjelasan ini, silahkan menyimak firman Allah subhanahu wa ta’ala :

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan yang mereka lakukan. Maka apakah penduduk negerinegeri  itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari diwaktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa
aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah, kecuali orang-orang yang merugi.” ( QS. Al-A’raf : 96-99).

Untuk lebih jelasnya hendaklah anda pelajari sejarah orang-orang terdahulu, karena dalam sejarah
terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal dan bagi orang yang hatinya “bersih” (tidak ada hijab yang menutupi hatinya).

 

 

Wallahu’alam bishawab

Download Sumber