AQD 01 – PRINSIP-PRINSIP AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH 02

AL-FIRQATUN NAJIYAH ADALAH AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH

Pada masa kepemimpinan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kaum muslimin itu adalah umat yang satu, sebagaimana yang difirmankan Allah subhanahu wa ta’ala:

“Sesungguhnya kalian ini adalah umat yang yang satu, dan Aku (Allah) adalah Rabb kalian, maka beribadahlah kepada-Ku”. ( Al Anbiyaa: 92).

Maka kemudian, sudah beberapa kali kaum Yahudi dan munafiqun berusaha memecah-belah kaum muslimin pada zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, namun mereka belum pernah berhasil. Orang munafiqun berkata seperti yang dikisahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala:

“Janganlah kamu berinfaq kepada orang-orang yang berada di sisi Rasulullah, supaya mereka bubar”. (Al Munafiqun: 7).

Yang kemudian dibantah langsung oleh Allah Y(pada lanjutan ayat yang sama):

“Padahal milik Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, akan tetapi orang-orang munafiq itu tidak mengetahui”.( Munafiqun : 7).

Demikian pula, kaum Yahudipun berusaha memecah- belah dan memurtadkan mereka dari agama mereka:

“Segolongan (lain) dari Ahli Kitab telah berkata (kepada sesamanya): “(pura-pura) berimanlah kamu kepada apa yang diturunkan kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman (para shahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah pada akhirnya, mudah-mudahan (dengan cara demikian) mereka (kaum muslimin) kembali kepada kekafiran”. (Ali Imran: 72).

Walaupun demikian, makar yang seperti itu tidak pernah berhasil karena Allah subhanahu wa ta’ala membongkar dan mengungkapkan niat buruk mereka.

Kemudian mereka berusaha untuk kedua kalinya, mereka berusaha kembali memecah belah kesatuan kaum muslimin (Muhajirin dan Anshar) dengan mengingatkan kembali kaum Anshar akan permusuhan di antara mereka sebelum datangnya Islam dan mendendangkan syair saling ejek antar suku di antara mereka.  Allah membongkar makar tersebut dalam firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, jika kalian mengikuti segolongan orang-orang yang diberi Al Kitab niscaya mereka akan mengembalikan kalian menjadi orang kafir sesudah kalian beriman”. ( Ali Imran: 100).

Hingga firman Allah subhanahu wa ta’ala :

“Pada hari yang di waktu ada wajah-wajah berseri-seri, dan muram…”. (Ali Imran: 106).

Maka kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam mendatangi kaum Anshar menasihati dan mengingatkan mereka akan nikmat Islam, dan bersatunya mereka melalui Islam, sehingga pada akhirnya mereka saling bersalaman dan berangkulan setelah hampir terjadi perpecahan, dengan demikian gagallah makar Yahudi, dan tetaplah kaum muslimin berada dalam persatuan.

Allah memang memerintahkan mereka untuk bersatu di atas Al Haq dan melarang berselisih dan berpecah, sebagaimana firman-Nya:

“Dan jamganlah kamu menyerupai orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih sesudah datangnya keterangan yang jelas”. ( Ali Imran: 105).

Dan firman-Nya pula:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu berpecah-pecah”. (Ali Imaran: 103).

Dan sesungguhnya Allah telah men-syariatkan persatuan kepada mereka dalam melaksanakan berbagai macam ibadah; seperti shalat, puasa, menunaikan haji dan dalam mencari ilmu, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam telah memerintahkan kaum muslimin ini agar bersatu dan melarang mereka dari perpecahan dan perselisihan. Bahkan beliau telah menyampaikan suatu berita yang berisi anjuran untuk bersatu dan larangan untuk berselisih, yakni berita tentang akan terjadinya perpecahan pada umat ini sebagaimana hal tersebut telah terjadi pada umat-umat sebelumnya, sabda Beliau shallallahu alaihi wasallam :

“Sesungguhnya barangsiapa yang masih hidup di antara kalian dia akan melihat banyak perselisihan, maka berpegang teguhlah kalian dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk setelah Aku” ([1]).

Dan sabdanya pula:

“Telah berpecah kaum Yahudi menjadi tujuh puluh satu galongan, dan telah berpecah kaum Nashrani menjadi tujuh puluh dua golongan, sedang umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Maka kamipun bertanya siapakah yang satu itu, wahai Rasulullah? beliau menjawab: yaitu barangsiapa yang berada pada yang aku dan para shahabatku jalani ini([2]).

Sesungguhnya telah nyata apa yang telah diberitakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka berpecahlah umat ini pada akhir generasi sahabat walaupun perpecahan tersebut tidak berdampak besar pada kondisi umat di masa generasi yang dipuji oleh Rasulullah dalam sabdanya:

“Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian generasi yang datang sesudahnya, kemudian yang datang sesudahnya”. ([3])

Perawi hadits ini berkata: “saya tidak tahu apakah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebut setelah generasinya dua atau tiga generasi”.

Yang demikian tersebut bisa terjadi karena masih banyaknya ulama dari kalangan muhadditsin, mufassirin, dan fuqaha. Mereka termasuk sebagai ulama tabiin dan pengikut para tabiin serta para imam yang empat dan murid-murid mereka. Juga disebabkan masih kuatnya daulah-daulah Islamiyyah pada abad-abad tersebut sehingga firqah-firqah menyimpang yang muncul pada waktu itu mengalami pukulan yang melumpuhkan baik dari sisi hujjah maupun politik.

Setelah berlalunya abad-abad yang dipuji ini bercampurlah kaum muslimin dengan pemeluk beberapa agama-agama yang bertentangan. Buku-buku ilmu ajaran kafir diterjemahkan dan para raja Islampun mengambil beberapa kaki tangan pemeluk ajaran kafir untuk dijadikan menteri dan penasihat kerajaan, maka semakin dahsyatlah perselisihan di kalangan umat dan percampurlah berbagai ragam golongan dan ajaran. Begitulah madzhab-madzhab yang bathilpun ikut bergabung dalam rangka merusak persatuan umat.

Hal itu terus berlangsung hingga zaman kita sekarang dan sampai masa yang dikehendaki Allah. Karena Al Firqatun Najiyah Ahlus Sunnah Wal Jamaah masih tetap berpegang teguh dengan ajaran Islam yang benar dan berjalan di atasnya, dan menyeru kepadanya, bahkan akan tetap berada dalam keadaan demikian sebagaimana diberitakan dalam hadits Rasulullah tentang keabadiannya, keberlangsungannya dan ketegarannya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah demi langgengnya hujjah atas para penentangnnya.

Sesungguhnya kelompok kecil yang diberkahi ini meniti jalan yang pernah ditempuh para sahabat y, bersama Rasulullah r baik dalam perkataan, perbuatan, maupun keyakinannya seperti yang disabdakan oleh beliau:

“Mereka yaitu barang siapa yang berada pada apa-apa yang aku dan para sahabat jalani hari ini”

Sesungguhnya mereka itu adalah penerus yang baik dari orang-orang yang tentang meraka Allah subhanahu wa ta’ala telah firmankan:

“Maka mengapakah tidak ada umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan (keshalihan) yang melarang dari berbuat kerusakan di muka bumi kecuali sebagian kecil di antara orang-orang yang telah kami selamatkan di antara mereka, dan orang –orang yang dzalim hanya mementingkan kemewahan yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.” (QS. Huud: 116).

==================================================

([1] )   Dikeluarkan oleh Abu Dawud: 5/4607 dan tirmidzi: 5/2676 dan dia berkata hadits ini hasan shahih, juga oleh Imam Ahmad: 4/ 126-127, dan Ibnu Majah : 1/ 43.

([2] )   Diriwayatkan oleh Tirmidzi: 5/ 2641, dan Al Hakim dalam mustadraknya: 1/ 128-129, dan Al Ajuri dalam Asy Syari’ah : 16, dan Imam Al Lalikaai dalam syarah ushul I’tiqaad Ahlis sunnah Wal jamaah: 1/ 145-147.

([3] )   Diriwayatkan oleh Bukhari:3/3650. dan Muslim : 6/ 86.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber