Periode Madinah

Tiga belas tahun Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam  berdakwah di kota Makkah mengembalikan ajaran bapak tauhid, Ibrahim, yang sudah hilang. Beliau mengibarkan bendera tauhid dan meruntuhkan tahta berhalaisme dalam kalbu sebelum menghancurkan wujudnya. Beliau juga membangun fondasi kehidupan yang kokoh di atas akidah yang suci dan mengembalikan fitrah yang sudah rusak karena ajaran Amr bin Lu’ai al-Khuza’i. Meskipun beliau menghadapi tantangan yang sangat dahsyat, namun satu orang demi satu orang, bahkan satu keluarga, membesarkan jiwa para pengikut agama dalam keasingannya.

Allah Shubhanahu wa ta’alla lalu memerintahkan mereka melakukan hijrah. Negeri yang dipilihkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla sebagai tempat bernaung dan mengatur strategi adalah kota Madinah yang dulunya bernama Yatsrib. Dalam perjalanan berjalan kaki menuju negeri yang jauh ini, kaum kafir Quraisy tidak berhenti berupaya membendung dakwah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berusaha memadamkannya dengan cara menangkap beliau baik dalam kondisi masih hidup maupun mati. Namun, makar jahat mereka ada yang mengawasinya. Mereka tidak bisa mengelak dari kehendak Allah Shubhanahu wa ta’alla. Allah Shubhanahu wa ta’alla pun menimpakan kegagalan kepada mereka.

Sesampainya di Yatsrib, hidup baru mulai dijalani. Strategi hidup mulai dirancang dan bendera tauhid semakin berkibar. Fondasi hidup pun tersusun dengan rapi dan kokoh. Para pembela dan penolong agama berdiri tegak. Kesucian lahiriah dan batiniah menghiasi diri mereka, yang dipimpin oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Negara Islam pun berdiri. Hukum-hukum Allah Shubhanahu wa ta’alla dijalankan dengan penuh ketundukan, didasari oleh:

  1. Keberhasilan dakwah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang dimulai dari pemurnian akidah.
  2. Kebersihan hidup lahiriah dan batiniah, disertai kebagusan hubungan mereka dengan Allah Shubhanahu wa ta’alla.
  3. Kesiapan yang sangat mendukung dari pemimpin dan rakyatnya yang semuanya berada pada jalan yang diridhai oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla.
  4. Ilmu agama yang murni. Di kota inilah semua ajaran Islam disempurnakan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla.

Dengan kesempurnaannya, sempurnalah pula tugas Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan yang telah memperbarui tatanan kehidupan. Allah Shubhanahu wa ta’alla menjadikan umatnya sebagai umat yang paling mulia dibandingkan dengan umat-umat sebelumnya. Generasi yang hidup bersama beliau pun menjadi generasi terbaik.

Dari pembahasan yang singkat ini, kita menyimpulkan bahwa tidaklah sebuah Negara Islam akan berdiri melainkan harus berlandaskan akidah yang benar. Tidak akan tegak hukum-hukum Allah Shubhanahu wa ta’alla di muka bumi melainkan dengan memurnikan tauhid kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla. Dengan misi yang sama inilah, Allah Shubhanahu wa ta’alla mengutus para rasul -Nya dan menurunkan kitab-kitab -Nya. Wallahu a’lam.

 

Wallahu’alam bishawab

Download Sumber

 

 

AQD 15 – Meluruskan Aqidah 04

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest