AQD 09 – KITAB TAUHID 54

BAB 54 : LARANGAN MENGUCAPKAN: “ABDI ATAU AMATI (HAMBAKU)”

Diriwayatkan dalam shahih Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:

(( لاَ يَقُلْ أَحَدُكُمْ: أَطْعِمْ رَبَّكَ، وَضِّئْ رَبَّكَ، وَلْيَقُلْ: سَيِّدِيْ وَمَوْلاَي، وَلاَ يَقُلْ أَحَدُكُمْ: عَبْدِيْ وَأَمَتِيْ، وَلْيَقُلْ:  فَتَاي وَفَتَاتِيْ وَغُلاَمِيْ ))

“Janganlah salah seorang di antara kalian berkata: (kepada hamba sahaya atau pelayannya): “Hidangkan makanan untuk gustimu, dan ambilkan air wudhu untuk gustimu”, dan hendaknya pelayan itu mengatakan: “tuanku, majikanku”; dan janganlah salah seorang di antara kalian berkata: (kepada budaknya): “hamba laki-lakiku, dan hamba perempuanku”, dan hendaknya ia berkata: “bujangku, gadisku, dan anakku”.

Kandungan bab ini:

  1. Larangan mengatakan “Abdi atau Amati”, yang berarti hambaku.
  2. Larangan bagi seorang hamba sahaya untuk memanggil majikannya dengan ucapan: “Rabbi” yang berarti: “gusti pangeranku”, dan larangan bagi seorang majikan mengatakan kepada hamba sahayanya atau pelayannya “أَطْعِمْ رَبَّكَ” yang artinya: “hidangkan makanan untuk gusti pangeranmu”.
  3. Dianjurkan kepada majikan atau tuan untuk memanggil pelayan atau hamba sahayanya dengan ucapan “fataya” (bujangku), fatati (gadisku), dan ghulami (anakku).
  4. Dan dianjurkan kepada pelayan atau hamba sahaya untuk memanggil tuan atau majikannya dengan panggilan “sayyidi” (tuanku) atau “maulaya” (majikanku).
  5. Tujuan dari anjuran di atas untuk mengamalkan tauhid dengan semurni-murninya, sampai dalam hal ucapan.

 

Wallahu’alam bishawab

Download Sumber