BAB 36 : RIYA

 Firman Allah subhanahu wa ta ala :

 “Katakanlah: “sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: ‘bahwa sesungguhnya sesembahan kamu adalah sesembahan yang Esa’, maka barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah ia berbuat kemusyrikan sedikitpun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS.  Al Kahfi: 110).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah t dalam hadits marfu’, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: Allah subhanahu wa ta ala berfirman:

(( أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ مَعِيْ فِيْهِ غَيْرِيْ تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ ))

“Aku adalah Sekutu Yang Maha cukup sangat menolak perbuatan syirik. Barangsiapa yang mengerjakan amal perbuatan dengan dicampuri perbuatan syirik kepada-Ku, maka Aku tinggalkan ia bersama perbuatan syiriknya itu.” (HR. Muslim).

Diriwayatkan dari Abu Said t dalam hadits marfu’ bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:

(( أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِيْ مِنَ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ؟ قَالُوْا: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: (( الشِّرْكُ الْخَفِيُّ يَقُوْمُ الرَّجُلُ فَيُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مَنْ نَظَرِ رَجُلٍ إِلَيْهِ))

Maukah kalian aku beritahu tentang sesuatu yang bagiku lebih aku khawatirkan terhadap kamu dari pada Al Masih Ad Dajjal ([2])? para sahabat menjawab: “baik, ya Rasulullah.”, kemudian Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “syirik yang tersembunyi, yaitu ketika seseorang berdiri melakukan shalat, ia perindah shalatnya itu  karena mengetahui ada orang lain yang melihatnya” (HR. Ahmad).

 Kandungan bab ini:

  1. 1-Penjelasan tentang ayat dalam surat Al Kahfi ([3]).
  2. Masalah yang penting sekali, yaitu: pernyataan bahwa amal shalih apabila dicampuri dengan sesuatu yang bukan karena Allah, maka tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta ala.
  3. Hal itu disebabkan karena Allah subhanahu wa ta ala adalah sembahan yang sangat menolak perbuatan syirik karena sifat ke –Mahacukupan–Nya.
  4. Sebab yang lain adalah karena Allah subhanahu wa ta ala adalah sekutu yang terbaik.
  5. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam sangat khawatir apabila sahabatnya melakukan riya’.
  6. Penjelasan tentang riya dengan menggunakan contoh sebagai berikut: seseorang melakukan shalat karena Allah, kemudian ia perindah shalatnya karena ada orang lain yang memperhatikannya.

([1]) Riya’ adalah berbuat baik karena orang lain.

([2])    Al Masih Ad Dajjal ialah seorang manusia pembohong terbesar yang akan muncul pada akhir zaman, mengaku sebagai Al Masih bahkan mengaku sebagai tuhan yang disembah. Kehadirannya di dunia ini termasuk di antara tanda-tanda besar akan tibanya hari kiamat. Sedang keajaiban-keajaiban yang bisa dilakukannya merupakan cobaan dari Allah subhanahu wa ta ala untuk umat manusia yang masih hidup pada masa itu. Disebutkan dalam shahih Muslim bahwa masa kemunculannya di dunia nanti selama 40 hari, di antara hari-hari tersebut; sehari bagaikan setahun, sehari bagaikan sebulan, sehari bagaikan seminggu, kemudian hari-hari lainnya sebagaimana biasa; atau  kalau kita jumlahkan sama dengan satu tahun dua bulan dua pekan. Hadits-hadits tentang Ad Dajjal ini telah diriwayatkan oleh banyak sahabat, antara lain: Abu Bakar Ash Shiddiq, Abu Hurairah, Mu’adz bin Jabal, Jabir bin Abdillah, Abu SA’id Al Khudri, An Nawwas bin Sam’an, Anas bin Malik, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Aisyah, Ummu Salamah, Fatimah binti Qais dan lain lain. Masalah ini bisa dirujuk dalam:

-Shahih Bukhari: kitab Al fitan bab: 26 –27: kitab At Tauhid bab 27, 31.

-Shahih Muslim: kitab Al fitan bab: 20, 21, 22, 23, 24, 25.

-Shahih At Turmudzi: kitab Al fitan bab: 55, 56, 57,58, 59, 60,61,62.

-Sunan Abu Dawud: kitab malahim bab: 14, 15.

-Sunan Ibnu Majah: kitab Al Fitan bab: 33.

-Musnad Imam Ahmad: jilid I hal 6, 7 ; jilid 2 hal : 33, 37, 67, 104, 124, 131 ; jilid 5 hal : 27, 32, 43, 47.

-Dan kitab-kitab hadits lainnya.

([3])    Ayat ini menunjukkan bahwa amal ibadah tidak akan diterima oleh Allah kecuali bila memenuhi dua syarat:

Pertama: ikhlas semata-mata karena Allah, tidak ada syirik di dalamnya sekalipun syirik kecil seperti riya’.

Kedua: sesuai dengan tuntunan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, karena suatu amal disebut shalih jika ada dasar perintahnya dalam agama.

Ayat ini mengisyaratkan pula bahwa ibadah itu tauqifiyah, artinya berlandaskan pada ajaran yang dibawa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, tidak menurut akal maupun nafsu seseorang.

 

Wallahu’alam bishawab

Download Sumber

 

AQD 09 – KITAB TAUHID 36

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest