BAB 35 : SABAR TERHADAP TAKDIR ALLAH ADALAH BAGIAN DARI IMAN KEPADA-NYA

Allah subhanahu wa ta ala berfirman:

 “Tiada suatu musibah yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At Taghabun: 11).

 

‘Alqomah ([1]) menafsirkan Iman yang disebutkan dalam ayat ini dengan mengatakan:

((هُوَ الرَّجُلُ تُصِيْبُهُ المُصِيْبَةُ فَيَعْلَمُ أَنَّهَا مِنْ عِنْدِ اللهِ فَيَرْضَى وَيُسْلِمُ))

“Yaitu: orang yang ketika ditimpa musibah, ia meyakini bahwa itu semua dari Allah, maka ia pun ridha dan pasrah (atas takdir-Nya).

Diriwayatkan dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah t bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:

(( اثْنَانِ فِيْ النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ، الطَّعْنُ فِيْ النَّسَبِ، وَالنِّيَاحَةُ عَلَى المَيِّتِ ))

“Ada dua perkara yang masih dilakukan oleh manusia, yang kedua-duanya merupakan bentuk kekufuran: mencela keturunan, dan meratapi orang mati.”

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits marfu’, dari Ibnu Mas’ud t, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:

(( لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُوْدَ، وَشَقَّ الجُيُوْبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ ))

“Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian, dan menyeru dengan seruan orang-orang jahiliyah”.

Diriwayatkan dari Anas t sesungguhnya Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:

(( إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ اللهُ لَهُ بِالْعُقُوْبَةِ فِيْ الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافَى بِهِ يَوْمَ القِيَامَةِ ))

“Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba-Nya, maka Ia percepat hukuman baginya di dunia, dan apabila Ia menghendaki keburukan pada seorang hamba-Nya, maka Ia tangguhkan dosanya sampai ia penuhi balasannya nanti pada hari kiamat.” (HR. Tirmidzi dan Al Hakim).

Rasulullah bersabda:

(( إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخَطَ فَلَهُ السُّخْطُ ))

“Sesungguhnya besarnya balasan itu sesuai dengan besarnya ujian, dan sesungguhnya Rasulullah shalallahu alaihi wassalam jika mencintai suatu kaum,  maka Ia akan mengujinya, barangsiapa yang ridha akan ujian itu maka baginya keridhaan Allah, dan barangsiapa yang marah/benci terhadap ujian tersebut, maka baginya kemurkaan Allah.” (Hadits hasan menurut Turmudzi).

 Kandungan dalam bab ini:

  1. Penjelasan tentang ayat dalam surat At Taghabun ([2]).
  2. Sabar terhadap cobaan termasuk iman kepada Rasulullah shalallahu alaihi wassalam.
  3. Disebutkan tentang hukum mencela keturunan.
  4. Ancaman keras bagi orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek baju, dan menyeru kepada seruan jahiliyah [karena meratapi orang mati].
  5. Tanda apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya.
  6. Tanda apabila Allah menghendaki keburukan kepada hamba-Nya.
  7. Tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya.
  8. Dilarang bersikap marah dan tidak sabar atas cobaan ketika diuji oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam.
  9. Pahala bagi orang yang ridha atas ujian dan cobaan.

 

([1])    ‘Al Qomah bin Qais bin Abdullah bin Malik An Nakhai, salah seorang tokoh dari ulama tabiin, dilahirkan pada masa hidup Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan meninggal tahun 62 H (681 M).

([2])    Ayat ini menunjukkan tentang keutamaan sabar atas segala takdir Allah yang pahit, seperti musibah; dan menunjukkan bahwa amal termasuk dalam pengertian iman.

 

Wallahu’alam bishawab

Download Sumber

 

AQD 09 – KITAB TAUHID 35

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest