AQD 06 – Syarh Kitab Kasyfu Syubuhat 05

Katakanlah pula: orang-orang yang dibakar oleh Ali bin Abu Thalib Radhiallahu ‘Anhu21 semuanya juga mengaku sebagai muslim, mereka termasuk di antara shahabat Aliru serta belajar ilmu dari para shahabat, akan tetapi mereka mempercayai tentang Ali sebagaimana kepercayaan sebagian orang kepada Yusuf atau Syamsan dan yang sejenisnya, maka bagaimana mungkin para shahabat
bersepakat memerangi dan mengkafirkan mereka? Apakah Anda mengira para shahabat mengkafirkan ummat Islam? Apakah Anda mengira kepercayaan terhadap Ali bin Abi Thalib suatu kekufuran?

Katakan pula: Bani Ubaid Al Qaddah22 yang menguasai Maghrib dan Mesir pada zaman Bani Abbas, mereka semua bersaksi bahwa tiadak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah Subhanahu Wa Ta’ala . Mereka mengaku beragama Islam, menunaikan shalat Jum’at dan shalat berjamaah. Akan tetapi tatkala mereka menampakan pertentangan terhadap syari’at, dalam beberapa hal yang tidak sebesar apa yang sedang kita bicarakan ini, para ulama sepakat mengakafirkan dan memerangi mereka
serta menyatakan bahwa negeri mereka adalah negeri Harb (yang boleh diperangi). Sehingga umat Islam pun menyerang mereka sampai dapat membebaskan negeri orang-orang Islam dari cengkeraman tangan mereka.

Juga katakan: Jika orang-orang terdahulu tidak kafir kecuali karena mereka sekaligus melakukan syirik dan pengingkaran terhadap Rasul Shallallhu Alaihi Wasallam, Al-Qur’an, hari kebangkitan dan masalah lainnya, lantas apa arti bab yang disebut oleh para ulama dengan “Bab Hukum Orang Yang Murtad” yaitu orang Islam yang kafir setelah keislamannya, yang di dalamnya disebutkan berbagai perbuatan, yang melakukan salah satu perbuatan tersebut menjadi kafir, harta dan darahnya menjadi halal. Sampai disebutkan juga oleh mereka beberapa perbuatan remeh bagi
orang yang melakukannya seperti mengucapkan suatu kalimat kufur dengan lisannya tanpa hatinya, atau menyebutkannya meski hanya bersendau gurau dan main-main saja.

Katakan pula: Orang yang dimaksud oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam ayat-Nya:

“Mereka (orang-orang munafik) itu bersumpah atas (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan sesuatu yang (menyakitimu). Sesungguhnya mereka mengucapkan perkataan kekafiran dan telah menjadi kafir sesudah Islam.”(At- Taubah:74).

Tidakkah engkau mendengar bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengkafirkan mereka hanya karena ucapan mereka, padahal mereka hidup di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , berjuang bersama beliau, membayar zakat, dan melaksanakan haji? Demikian juga dengan orang-orang yang disebutkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya:

“Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ tidak usah kamu minta maaf karena kamu kafir sesudah beriman.”(Taubah:65-66).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan jelas mengkafirkan mereka setelah keimanan mereka, karena ketika mereka bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam peperangan Tabuk mengucapkan suatu kalimat kufur yang mereka ucapkan dengan main-main.

Maka perhatikanlah syubhat ini dengan seksama, yaitu ucapan mereka:

Apakah kalian mengkafirkan orang-orang dari kaum muslimin yang bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala , mendirikan shalat dan mengerjakan puasa. Kemudian perhatikanlah perhatikan jawaban yang telah dijelaskan, karena hal itu termasuk yang palaing besar manfaatnya dalam pembahasan buku ini.

Termasuk dalil yang menunjukan hal tersebut yaitu kisah yang disebutkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentang bani Israil, bahwa dengan keislaman, keilmuan, dan kesalehan mereka, mereka mengatakan kepada Nabi Musa Alaihi salam:

“Buatlah untuk kami tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan.”(Al-Araf:138).

Dan ucapan sebagian shahabat, “Buatkan bagi kami Dzaatu Anwaath”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun bersumpah bahwa ucapan semacam ini seperti ucapan Bani Israil terhadap Nabi Musa24 “buatlah bagi kami tuhan (berhala)”.

Meski demikian, orang-orang musyrik masih saja menghembuskan syubhat lain dengan mengatakan mengenai kisah ini bahwa Bani Israil tidak menjadi kafir, demikian juga dengan orang-orang yang berkata kepada Nabi Shallallhu Alaihi Wasallam “Buatkan bagi kami Dzaatu anwaath” tidak menjadi kafir karena ucapan mereka itu. Jawaban atas syubhat ini: bahwa Bani Israil saat itu belum sampai menyekutukan Tuhan dengan mengambil tuhan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala .

Demikian juga dengan orang-orang yang meminta kepada Nabi Shallallhu Alaihi Wasallam, belum sampai menjadikan Dzaatu Anwaath sebagai tempat keramat mereka. Yang jelas, seandainya Bani Israil melakukan tersebut, tentu mereka menjadi kafir. Juga dengan orang-orang yang telah dilarang oleh Nabi Shallallhu Alaihi Wasallam, seandainya mereka tidak mentaati Nabi dan menjadikan Dzaatu Anwaath sebagai tempat keramat setelah mereka dilarang, tentulah mereka menjadi kafir.

Inilah yang dimaksud. Namun, kisah ini juga menunjukan bahwa seorang muslim, bahkan seorang yang alim, kadang terjerumus dalam perbuatn syirik tanpa disadarinya. Jadi kisah ini memberikan pelajaran dan sikap waspada, juga memberikan pengertian, orang yang bodoh apabila mengatakan: “Saya sudah memahami tauhid” merupakan kebodohan yang besar dan tipuan setan. Pelajaran
lain yang bisa diambil dari kisah di atas, yaitu seorang muslim yang berijtihad jika mengucapkan kata-kata kufur, tanpa disadarinya, lantas ia diperingatkan dan segera bertaubat dari perbuatannya itu, maka ia tidak menjadi kafir, haruslah diperingatkan dengan kata-kata yang keras sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nabi Shallallhu Alaihi Wasallam.

Masih ada lagi syubhat lain yang mereka kemukakan, kata mereka: Nabi Shallallhu Alaihi  Wasallam mengecam Usamah atas tindakannya membunuh orang yang telah mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’ dan beliau bersabda: “Apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’.” Dan sabda beliau: “Saya diperintahkan memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’.” Juga hadits-hadits yang lain mengenai perlindungan terhadap orang yang mengucapkannya. Menurut orang-orang bodoh itu, barang siapa yang telah  mengucapkannya tidak akan kafir, dan tidak boleh dibunuh, sekalipun melakukan perbuatan apa saja. Jawaban terhadap orang-orang musyrik yang bodoh itu: Telah diketahui bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerangi orang-orang Yahudi dan menawan mereka, padahal mereka juga mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’. para shahabat Nabi Shallallhu Alaihi Wasallam juga memerangi Bani Hanifah padahal mereka bersaksi ‘La ilaha illallaah-Muhammad Rasulullah’, mengerjakan shalat dan mengaku beragama Islam.

Demikian pula dengan orang-orang yang dibakar Ali bin Abi Thalib. Mereka yang bodoh ini mengakui bahwa orang yang mengingkari hari kebangkitan adalah kafir dan dibunuh, walaupun telah mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’, dan orang yang mengingkari salah satu dari hukum Islam juga kafir dan dibunuh, meski telah mengucapkan kalimat tersebut. Lalu bagaimana kalimat ini tidak berguna bagi orang yang mengingkari salah satu cabang dari ajaran Islam, tetapi berguna bagi orang yang mengingkari tauhid yang merupakan dasar dan sendi agama para rasul? Sungguh para musuh Allah Subhanahu Wa Ta’ala ini tidak mengerti makna hadits-hadits tadi.

Adapun hadits Usamah, sesungguhnya ia membunuh orang yang mengaku Islam karena menurut perkiraannya orang tersebut mengaku Islam hanyalah  takut atas jiwa dan hartanya. Padahal jika seseorang menampakan keislaman, maka wajib dilindungi kecuali jika nyata-nyata ia melakukan tindakan yang bertentangan dengan pengakuanya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menurunkan ayat tentang hal tersebut :

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah.”(Anda-Nisa’:94).

Maksudnya, carilah kepastiannya. Ayat ini menunjukan bahwa wajib hukumnya menahan diri dan bersikap hati-hati. Jika ternyata setelah itu ia melakukan apa yang bertentangan dengan ajaran Islam maka boleh dibunuh, berdasarkan firman- Nya, “Maka telitilah”. Jika tidak boleh dibunuh bila telah mengucapkan syahadat, maka tidak ada artinya perintah untuk teliti dalam hal ini. Demikian juga hadits lain yang semisalnya, mempunyai pengertian seperti yang telah kami
sebutkan, bahwa orang yang menampakan keislaman dan tauhid, wajib dilindungi kecuali jika nyata-nyata perbuatannya bertentangan dengan hal itu. Dasarnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’?”, dan beliau juga bersabda: “Aku diperintahkan memerangi manusia hingga mereka mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’.” Juga sabdanya tentang Khawarij: “Di manapun kalian bertemu mereka,
maka bunuhlah mereka. Seandainya aku menjumpai mereka, niscaya aku akan membunuh mereka sebagaimana pembunuhan atas kaum ‘Ad.”

Padahal mereka itu adalah orang-orang yang banyak beribadah dan berdzikir dengan ‘Laa ilaaha illallaah’ bahkan para shahabat memandang rendah shalatnya di hadapan mereka, padahal mereka itu belajar ilmu dari para shahabat. Jadi, ucapan ‘Laa ilaaha illallaah’, ibadah yang banyak dan pengakuan keislaman, sama sekali tidak berguna bagi mereka tatkala tampak dari mereka perbuatan yang bertentangan dengan syariat.

Demikian pula apa yang kami sebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerangi orang-orang Yahudi, dan para shahabat memerangi Bani Hanifah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun pernah berniat menyerang Bani Al Musthaliq ketika diberi tahu mereka menolak membayar zakat, sehingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik yang membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengatahui keadaan yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al Hujarat:6). Dan ternyata orang yang membawa kabar itu memang berdusta atas mereka.

Itu semua menunjukan bahwa maksud Nabi Shallallhu Alaihi Wasallam dalam hadits-hadits, yang mereka jadikan dalih, adalah apa yang kami sebutkan tadi. Ada syubhat lain yang mereka kemukakan, yaitu apa yang disebutkan oleh Nabi Shallallhu Alaihi Wasallam bahwa umat manusia pada hari kiamat meminta pertolongan kepada Nabi Adam, kemudian kepada Nabi Nuh, kemudian kepada Nabi Ibrahim, kemudian kepada Nabi Musa dan kepada Nabi Isa. Para nabi itu semuanya menyatakan tidak bisa menolong , sehingga mereka akhirnya datang kepada Nabi Muhammad
Shallallhu Alaihi Wasallam.

Menurut mereka, hal ini menunjukan bahwa minta pertolongan kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala bukan merupakan perbuatan syirik. Untuk menjawab syubhat ini, kita katakan: Meminta pertolongan kepada makhluk dalam rangka yang mampu dilakukannya, kita tidak mengingkari kebolehannya,seperti yang difirmankan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kisah Nabi
Musa:

“Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya.”(Al Qashash:15).

Seperti halnya seseorang yang meminta pertolongan kepada temannya ketika dalam peperangan dan perkara-perkara lain yang mampu dilakukan oleh makhluk. Namun kita menolak istighatshah ibadah (meminta pertolongan secara ibadah) seperti yang mereka lakukan di atas kuburan para wali, atau ketika para wali tidak hadir di hadapan mereka, atas perkara-perkara yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata.”

Jika hal tersebut telah jelas, maka perlu diketahui bahwa meminta pertolongan pada para nabi pada hari kiamat, maksudnya agar mereka memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala semoga berkenan menghisab manusia sehingga ahli Surga terbebas dari malapetaka yang daksyat di tempat dikumpulkannya para makhluk pada hari itu. Hal ini boleh hukumnya, baik di dunia maupun di akhirat. Anda boleh mendatangi seorang shaleh yang masih hidup, hadir duduk bersama Anda dan mendengar ucapan Anda, lalu meminta kepadanya,”Doakan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala untukku!..” sebagaimana para shahabat meminta kepada Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di masa hidup beliau. Sedangkan setelah beliau wafat, sama sekali mereka tidak pernah meminta kepada nabi di sisi kuburan beliau. Bahkan para salaf mengingkari orang yang berdoa langsung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala jika dilakukan di sisi kuburan beliau. Lalu, bagaimana dengan permintaan yang ditujukan kepada beliau sendiri?

Masih ada lagi syubhat mereka yang lain, yaitu kisah Nabi Ibrahim Alaihi salam ketika dimasukkan ke dalam api, malaikat Jibril menampakkan diri di hadapannya dan berkata: “Apakah engkau perlu sesuatu? Nabi Ibrahim ‘alaihis salam menjawab:” Saya tidak memerlukan sesuatu darimu”” Kata mereka: seandainya meminta pertolongan kepada Jibril merupakan perbuatan syirik, tentu Jibril tidak menawarkan kepada Ibrahim. Jawabnya: Hal ini sejenis dengan syubhat pertama. Jibril menjawab kepada Nabi Ibrahim bantuan yang mampu ia lakukan, karena ia mempunyai sifat seperti yang disebutkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya:

“Ucapan itu tiada lain adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.”(Najm:4-5).

Jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengizinkan kepadanya untuk mengambil api yang membakar Ibrahim atau mengambil tanah dan gunung-gunung sekitarnya kemudian melemparkannya ke arah timur atau barat, niscaya Jibril melakukannya. Dan seandainya Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkannya untuk menempatkan Ibrahim di tempat yang jauh dari musuh-musuhnya, niscaya Jibril akan melaksanakannya. Andaikata pula Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan untuk mengangkat Ibrahim ke langit, niscaya ia laksanakan. Ini seperti halnya seorang kaya yang mempunyai banyak harta, melihat seseorang yang membutuhkan, lalu ia menawarkan pinjaman kepadanya atau memberinya sesuatu bantuan untuk memutupi kebutuhannya, lantas orang yang membutuhkan tersebut menolak bantuan itu, karena ia lebih memiliki bersabar hingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberinya rizki dengan karunia-Nya semata. Apakah hal ini termasul istighasah ibadah dan syirik, jika mereka memahami.?

Mari kita tutup pembahasan ini, Insya Allah Subhanahu Wa Ta’ala , dengan permasalahan yang besar dan penting sekali, yang dapat dipahami dari yang telah kita bahas terdahulu. Sengaja kita bahas tersendiri karena permasalahan ini amat penting dan banyaknya kesalahan mengenainya. Tidak ada pertentangan bahwa tauhid harus dilakukan dengan hati, lisan dan perbuatan. Jika salah satu dari ketiga hal ini tak terpenuhi, maka seseorang belum bisa dikatakan muslim. Jika mengetahui tauhid tetapi tidak mengamalkannya, maka ia adalah seorang kafir keras kepala,
seperti Fir’aun, Iblis dan semisalnya.

Banyak orang yang salah dalam hal ini. Mereka mengatakan: “Ini adalah kebenaran. Kami memahaminya dan bersaksi bahwa itulah yang benar. Namun kami tidak mampu    melaksanakannya. Tidak boleh bagi masyarakat negeri kami kecuali yang sesuai dengan mereka, dan alasan-alasan lainnya.” Orang yang perlu dikasihani ini tidak mengerti bahwa mayoritas  para pemimpin kekafiran pun mengetahui kebenaran, tetapi mereka meninggalkannya hanya karena adanya sesuatu dari alasan-alasan tersebut. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“Mereka menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah.”(At-Taubah:9)

“Mereka mengetahui Muhammad itu sebagaimana mereka mengenal anakanak
mereka sendiri.”(Al-Baqarah:146)

Dan berbagai ayat lainnya yang senada. Apabila seseorang mengerjakan tauhid hanya dengan amal lahir saja tanpa memahaminya, atau tidak mempercayai dengan hatinya, maka dia adalah seorang munafik yang lebih buruk daripada orang kafir.

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkat yang paling bawah dari Neraka.”(An-Nisaa’:145).

Permasalahan ini merupakan masalah besar dan panjang, akan nyata bagi Anda jika Anda perhatikan ucapan orang-orang. Anda melihat seseorang mengetahui kebenaran tetapi ia tidak mengamalkannya karena takut berkurang kekayaan duniawi atau pangkat kedudukannya, atau karena ingin menyenangkan orang lain. Anda juga melihat ada yang mengamalkannya sebatas lahirnya saja, sementara hatinya tidak; jika Anda tanyakan kepadanya tentang apa yang diyakini dalam hatinya, ia tidak mengetahuinya. Namun, hendaknya Anda memahami dua ayat Al-Qur’an berikut ini:

Pertama , firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang disebutkan di muka:

“Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.”(At-Taubah:66).

Jika sudah jelas bagi Anda bahwa sebagian shahabat yang ikut berperang melawan Romawi bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadi kafir lantaran kalimat kafur yang mereka ucapkan hanya dengan sendau gurau dan mainmain, maka nyatalah bagi Anda bahwa orang yang mengucapkan kekufuran atau melakukannya karena takut berkurang kekayaan duniawi atau pangkat kedudukannya, atau karena ingin menyenangkan orang lain, adalah lebih berat
daripada orang yang mengucapkan sesuatu hanya sekedar bermain-main.

Kedua, firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala Ta’ala:

“Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa (kafir) padahal hatinya tetap tenang dalam keadaan beriman (dia tidak berdosa)”(An-Nahl:106).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak memaafkan seseorang dari mereka kecuali siapa yang dipaksa kafir sedang hatinya tetap tenang dalam keimanan. Adapun selainnya, maka ia telah kafir sesudah beriman; baik melakukannya karena takut, atau karena ingin menyenangkan seseorang, atau karena ambisi terhadap negeri, keluarga, suku dan harta kekayaannya, atau melakukannya hanya sekedar bermainmain, atau karena tujuan-tujuan lain; terkecuali orang yang dipaksa. Ayat tersebut
menunjukan hal ini dari dua sisi:

Pertama, firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
“Kecuali orang yang dipaksa (kafir).”(An-Nahl:106).

Dalam ayat ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak mengecualikan selain orang yang dipaksa. Dan telah dimaklumi bahwa seseorang tidak dapat dipaksa kecuali dalam perbuatan dan ucapan. Adapun keyakinan hati tidak seorang pun yang dapat memaksanya.

Kedua, firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

“Yang sedemikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat.”(An-Nahl:107).

Dengan jelas disebutkan di sini bahwa kekufuran dan adzab ini bukan disebabkan keyakinan, kebodohan (ketidaktahuan), kebencian terhadap agama, atau kecintaan terhadap kekufuran. Akan tetapi disebabkan karena mempunyai suatu kepentingan duniawi, maka dia lebih mengutamakan daripada agama. Hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala Subhanahu Wa Ta’ala yang lebih mengetahui. Segala puji milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala Tuhan semesta alam. Semoga shalawat dan salam
senantiasa dilimpahkan Allah SubSubhanahu Wa Ta’ala kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para shahabatnya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber