Al-Ahad (Esa) artinya yang tidak ada yang semisalnya, sedangkan Ash-Shamad (tempat bergantung) maksudnya yang dituju untuk memenuhi berbagai kebutuhan18, barang siapa mengingkari hal ini maka dia telah kafir, meskipun dia tidak mengingkari keberadaan surat itu. Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya.”(Al-Mukminun:91).

Karena itu, antara keduanya terdapat perbedaan jelas, sehingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan masing-masing sebagai suatu kekufuran yang berdiri sendiri. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah lah yang menciptakan jin itu dan mereka mendustakan (dengan mengatakan): ‘Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan,’ tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.”(Al An’am:100).

Karenanya, dua jenis kekufuran itu amatlah berbeda. Dalil lain dari masalah ini adalah bahwa orang-orang yang kafir karena memuja Latta, padahal ia adalah seorang yang shaleh, mereka tidak menjadikannya sebagai putera Allah Subhanahu Wa Ta’ala ; demikian juga dengan orang-orang yang kafir karena menyembah jin itu sebagai putera Allah Subhanahu Wa Ta’ala . Semua ulama dari empat madzab menyebutkan dalam bab “Hukum orang Murtad” bahwa seorang muslim yang mengira Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki anak maka dia telah murtad. Dan mereka  membedakan antara dua jenis kekufuraan tersebut. Ini sungguh jelas sekali.
Jika dia membawakan ayat:

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”(Yunus:62).

Maka katakanlah: Inilah yang benar, tetapi mereka itu tidak disembah. Padahal kami tidak menyebutkan kecuali bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan mereka menjadikan para wali itu sebagai sekutu Allah Subhanahu Wa Ta’ala . Sementara wajib bagi Anda mencintai, mengikuti dan mengakui karamah mereka. Dan sungguh tidak ada orang yang mengingkari karamah para wali kecuali ahli bid’ah dan orang-orang sesat. Agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah pertengahan
antara dua ujung, petunjuk antara dua kesesatan serta kebenaran antara dua kebatilan.
Jika Anda sudah mengetahui bahwa hal yang dinamakan oleh orang-orang musyrik pada zaman kami ini dengan sebutan “al-i’tiqaad” merupakan syirik yang dimaksud dalam Al-Qur’an dan karenanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerangi manusia, maka ketahuilah bahwa bentuk syirik orang-orang terdahulu itu lebih ringan dari bentuk syirik orang-orang zaman kami ini. Dan itu karena dua hal:

Pertama: orang-orang terdahulu tidak menyekutukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala serta tidak memohon kepada para malaikat, wali dan patung-patung di samping menyembah dan memohon Allah Subhanahu Wa Ta’ala kecuali dalam keadaan senang. Adapun dalam keadaan kesulitan maka mereka hanya memurnikan permohonan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata, seperti ditegaskan dalam firman-Nya :

“Dan bila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih (Al-Isra’ :67)

“Katakanlah: ’Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu atau datang kepadamu hari kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar! (tidak), tetapi hanya Dialah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah).”(Al-An’am:40-41).

“Dan bila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada tuhannya dengan kembali pada-Nya, kemudian bila Tuhan memberikan ni’mat-Nya kepadanya lupalah ia akan kemudharatan yang pernah ia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutusekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah:
‘Bersenangsenanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu. Sesungguhnya, kamu termasuk penghuni Neraka.”(Az Zumar:8).

“Dan bila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.”(Luqman:32).

Maka barang siapa yang sudah memahami masalah ini sebagaimana yang dijelaskan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Kitab Suci-Nya, yaitu bahwasanya orang-orang musyrik yang diperangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang-orang yang berdoa (memohon) kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan berdoa pula kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam keadaan senang.

Adapun dalam keadaan susah dan kesulitan maka mereka hanya berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, dan mereka melupakan sayid-sayid mereka. Dari sini jelaslah perbedaan syirik orang-orang sekarang dengan syirik orang-orang terdahulu. Namun, adakah orang yang hatinya memahami masalah ini secara mendalam? Hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala -lah tempat memohon pertolongan.

Kedua: Orang-orang terdahulu, di samping menyeru kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala mereka juga kepada orang-orang yang dekat dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala , baik para nabi, wali atau malaikat. Juga ada yang menyeru batu-batu atau pohon-pohon yang semuanya itu ta’at kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tidak maksiat kepada-Nya. Adapun orang-orang pada zaman kita, disamping kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala , mereka pun menyeru kepada orang-orang yang paling fasik di antara ummat manusia.

Orang-orang yang mereka seru itu adalah orang-orang yang menghalalkan perbuatan keji untuk mereka, seperti: berzina, mencuri, meninggalkan shalat atau lainnya. Sedang orang yang mempercayai manusia shaleh atau yang tidak berbuat maksiat seperti pohon atau batu tentu lebih ringan (dosanya) daripada orang yang mempercayai manusia yang diakui kefasikan dan  kebejatannya, serta terkenal karenanya. Jika Anda telah mengetahui benar bahwa orang-orang musyrik yang diperangi oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih sehat akalnya dan lebih ringan syiriknya daripada mereka itu, maka ketahuilah bahwa mereka itu memilki syubhat yang mereka kemukakan sebagai jawaban dari apa yang telah kami sebutkan.

Syubhat ini termasuk terbesar. Karena itu dengarkanlah baik-baik jawaban dari syubhat tersebut. Syubhat itu adalah, bahwasanya mereka mengatakan : Sesungguhnya orang-orang yang Al-Qur’an diturunkan berkenaan dengan mereka, tidak bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak  disembah kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan mendustakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam , mereka pun mengingkari kebangkitan,mendustakan Al-Qur’an dan menganggapnya sebagai sihir. Sedang kami bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala , dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala , kami mempercayai Al- Qur’an, mengimani hari kebangkitan, kami juga shalat dan puasa. Lalu bagaimana Anda menyamakan kami dengan orang-orang musyrik terdahulu?

Jawabannya adalah, bahwasanya tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama jika seseorang membenarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam suatu hal dan mendustakan beliau dalam hal lain, dia adalah kafir, tidak masuk ke dalam agama Islam. Demikian pula jika ia mengimani sebagian Al-Qur’an dan mengingkari sebagian yang lain. Misalnya, seseorang mengakui tauhid tetapi mengingkari kewajiban shalat, atau sebaliknya, mengingkari puasa, atau mengakui semuanya tetapi mengingkari kewajiban haji, maka hukum orang seperti itu adalah kafir. Karena itu, ketika beberapa orang tidak menunaikan ibadah haji pada zaman Nabi Shallallhu Alaihi Wasallam maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala langsung menurunkan wahyu tentang mereka:

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang-orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah, barang siapa yang mangingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”(Ali Imran:97).

Dan siapa yang mengakui semua hal tersebut di atas, tetapi mengingkari hari kebangkitan maka dia telah kafir berdasrkan ijma para ulama, serta darah dan hartanya menjadi halal. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya dengan mengatakan: ‘Kami telah beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain), serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian itu (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu siksaan yang menghinakan.”(An-Nisa’:150-151).

Jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menegaskan dalam kitab-Nya bahwa siapa yang mengimani sebagian dan mengingkari sebagian yang lain maka dia adalah orang kafir yang sebenarnya. Dengan demikian, syubhat ini pun menjadi sirna. Dan hal inilah yang dikemukakan oleh sebagian penduduk Ihsa’ (nama suatu tempat di daerah Saudi Arabia) dalam surat yang dikirimkan kepada kami. Katakanlah pula: jika Anda mengakui bahwa orang yang membenarkan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam segala hal, tetapi dia mengingkari kewajiban shalat, maka dia telah kafir, dan darah serta hartanya menjadi halal berdasarkan ijma’. Demikian pula jika ia mengakui (mengimani) segala hal kecuali masalah hari kebangkitan. Juga, jika dia mengingkari kewajiban puasa Ramadhan meskipun mempercayai semua hal di atas, hukumnya adalah kafir. Semua madzab sepakat dalam hal ini, dan Al-Qur’an pun telah membicarakannya, sebagaimana yang telah
kami jelaskan di muka.

Maka nyatalah bahwa tauhid merupakan kewajiban terbesar yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ; lebih besar dari kewajiban shalat, zakat, puasa dan haji. Lalu, bagaimana jika seseorang mengingkari salah satu perkara itu menjadi kafir, meskipun mengamalkan semua ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , sementara tidak kafir orang yang mengingkari tauhid, padahal tauhid adalah agama para rasul? Maha Suci Allah Subhanahu Wa Ta’ala , sungguh mengherankan kebodohan ini.

Katakanlah pula: Para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memerangi Bani Hanifah 1919, padahal mereka telah masuk Islam bersama Nabi Shallallhu Alaihi Wasallam, mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mereka juga melakukan adzan dan shalat. Jika dia menyanggah: Masalahnya karena mereka mengatakan Musailamah itu seorang nabi. Jika seorang
yang mengangkat seorang laki-laki sampai derajat Nabi Shallallhu Alaihi Wasallam adalah kafir, halal darah dan hartanya, dan bahwa shahadat dan shalatnya tidak berguna, maka bagaimana pula dengan orang yang mengangkat Syamsan, Yusuf,seorang shahabat atau nabi ke derajat Tuhan Yang Menguasai langit dan bumi? Maha Suci Allah Subhanahu Wa Ta’ala , alangkah besar masalahnya.
“Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang yang tidak (mau) memahami.”(Ar-Rum:59).

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

AQD 06 – Syarh Kitab Kasyfu Syubuhat 04

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest