AQD 06 – Syarh Kitab Kasyfu Syubuhat 02

Orang-orang kafir yang bodohpun mengerti, yang dimaksud Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan kalimat itu adalah mengesakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan selalu bergantung kepada-Nya, serta mengingkari dan berlepas diri dari segala sesuatu yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala .
Maka ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan, ucapkanlah:
“Laa Ilaaha Illallah” (tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala ), orang musyrik malah menjawab:

“Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu sesembahan yang satu saja? sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang mengherankan “(Shad:5)
Jika Anda telah mengatahui bahwa orang-orang kafir yang bodohpun memahami hal itu, maka sangat  mengherankan jika ada orang yang mengaku muslim,  tetapi tidak mengetahui tafsir dari kalimat “Laa Ilaaha Illallah” yang diketahui oleh orangorang kafir yang bodoh itu. Bahkan dia mengira bahwa kalimat “Laa Ilaaha
Illallah” cukup diucapkan saja huruf-hurufnya saja tanpa meyakini sesuatupun dari maknanya. Sedangkan orang intelektual dari mereka mengira bahwa makna “Laa Ilaaha Illallah”yaitu:tidak ada yang menciptakan, memberi rizki dan mengatur segala urusan kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala . Karena itu, tidak ada kebaikan sama
sekali [pengetahuan] seseorang yang orang-orang kafir lebih mengetahui daripadanya tentang makna “Laa Ilaaha Illallah”.
Jika Anda memahami apa yang saya uraikan dengan pemahaman yang sesungguhnya, dan Anda juga mengetahui jenis syirik yang dinyatakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang dikehendakinya” (An-Nisaa’:48)

Dan jika Anda telah mengetahui agama yang dengannya Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengutus para rasul dari sejak awal hingga paling akhir, yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menerima agama selain daripadanya. Dan Anda juga mengetahui pula kebodohan yang menimpa sebagian besar manusia terhadap masalah ini, niscaya Anda akan mendapatkan dua pelajaran:
I. Merasa senang dengan karunia Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala , sebagaimana firman- Nya:

“Katakanlah:’Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (Yunus:58)

II. mempunyai rasa takut yang besar. Karena, jika Anda mengetahui bahwa seseorang bisa kafir lantaran kata-kata yang diucapkannya, bahkan terkadang katakata itu ia ucapkan sementara ia tahu bahwa kata-kata itu bisa membuatnyakafir, tetapi ketidaktahuannya tidaklah dapat diterima sebagai alasan. Terkadang pula ia mengucapkan kata-kata-itu seraya mengiranya dapat mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala , sebagaimana yang dikira oleh orang-orang musyrik; khususnya jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi ilham kepada Anda tentang
kisah kaum nabi Musa Alaihi Salam, padahal mereka itu orang-orang shaleh dan berpengetahuan, mereka dating kepada Musa Alaihi Salam sambil mengatakan:

“Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).”(Al-A’raf:138).

Maka hal-hal itu akan memperbesar rasa takut Anda, sekaligus Anda akan berusaha sekeras mungkin agar terbebas dari berbagai hal tersebut dan yang sejenisnya. Dan ketahuilah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala , karena hikmah-Nya tidak mengutus seorang nabi pun dengan membawa tauhid ini kecuali Dia menjadikan beberapa musuh untuknya, sebagaiman firman-Nya:

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setansetan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia agar tidak beriman kepada nabi).”(Al-An’am:112).

Terkadang musuh-musuh tauhid itu banyak memiliki ilmu, macam-macam pustaka dan berbagai argumentasi, sebagaimana disebutkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Firman-Nya:

“Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan (ilmu) pengetahuan yang ada mereka.”(Al-Mu’min:83).

Jika Anda telah mengetahui hal-hal di atas juga telah mengetahui bahwa jalan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu pasti ditentang oleh musuh, baik dari kalangan ahli orasi, kaum intelektual maupun mereka yang pandai adu argumentasi. Oleh karena itu, Anda wajib memahami agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala , sehingga mengerti apa yang mesti Anda jadikan senjata dalam memerangi setan-setan tersebut, yang mana pemimpin dan tokoh mereka (iblis) telah berikrar di hadapan Tuhan:

“Saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka …”(Al-A’raf:16-17)
Namun, jika Anda takut menghadap menuju Allah Subhanahu Wa Ta’ala , lalu Anda mendengarkan secara seksama hujjah-hujjah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan berbagai keterangan-Nya, maka Anda jangan merasa takut atau sedih, sebab:

“Sesungguhnya tipu daya setan adalah lemah.”(An-Nisa’:76).

Seorang awam dari ahli tauhid bisa mengalahkan seribu intelektualnya orang musyrik, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

“Dan sesungguhnya tentara Kami (rasul beserta para pengikutnya) itulah yang pasti menang.”(Ash-shaffat:173).

Para tentara Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu pasti menang dengan hujjah dan lisan, sebagaimana mereka menang dengan pedang dan tombak. Hanya saja, yang ditakutkan seorang muwahhid (yang mengesakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala ) menapaki jalan tanpa bekal senjata. Padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengaruniai kita dengan kitab suci-Nya untuk menjelaskan sesuatu, sebagai petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi kaum muslimin. Oleh karena itu, pembawa kebatilan tidak akan dapat mendatangkan hujjah kecuali di dalam Al-Qur’an telah tercantum jawaban yang membatalkannya dan menjelaskan kebatilannya, sebagaimana firman-Nya:

“Tidaklah orang kafir itu datang kepada kamu (membawa) sesuatu yang ganjil melainkan Kami datang kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.”(Al-Furqan:33).

Sebagian ahli tafsir mengatakan: ”Ayat ini bersifat umum, yakni dalam setiap hujjah yang disampaikan oleh para ahli kebatilan sampi hari kiamat.”

Saya akan sebutkan kepada Anda beberapa hal yang telah disebutkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kitab-Nya sebagai jawaban atas apa yang dijadikan hujjah kaum musyrikan kepada kita pada zaman ini. Kami katakan : Menjawab orangorang  musyrik itu ada dua metode, secara mujmal (global) dan secara mufashshal (rinci).
Adapun jawaban secara mujmal, merupakan perkara agung dan bermanfaat besar sekali bagi orang-orang yang mau memikirkannya. Yaitu firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

“Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepadamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya.”(Ali Imran:7).

Dan dalam hadits shahih, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Jika kalian melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat daripadanya, maka mereka itulah orang-orang yang disebut Allah Subhanahu Wa
Ta’ala (dengan sebutan “dalam hatinya condong kepada kesesatan”), Oleh karena itu, waspadalah terhadap mereka.”
Sebagai contoh, apabila ada orang musyrik mengatkan : Allah Subhanahu Wa “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran kepada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”(Yunus:62).

Atau berdalil bahwa syafaat itu adalah benar adanya dan bahwa para nabi itu mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala , atau menyebut suatu ucapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang ia gunakan sebagai dalil bagi kebathilannya, sedangkan ia tidak memahami makna ucapan yang ia sebutkan
itu, maka hendaklah Anda menjawab:

Sesungghuhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyebutkan dalam kitab-Nya Al-Qur’an bahwa seseorang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan itu meninggalkan ayatayat muhkamat dan mengikuti ayat-ayat mutasyabihat. Dan apa yang saya ungkapkan kepada Anda bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan,
orang-orang musyrikin itu mengakui rububiyah Allah Subhanahu Wa Ta’ala , dan bahwa kekufuran mereka itu disebabkan oleh ketergantungan mereka terhadap malaikat, nabi, dan para wali, dengan ucapan mereka:Ta’ala berfirman:

“Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah”(Yunus:18).

Hal ini adalah perkara yang muhkam (terang dan mudah dipahami), lagi jelas, tak seorangpun yang kuasa mengubah maknanya. Sedang apa yang Anda sebutkan kepada kami, wahai orang-orang musyrik, baik dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala maupun dari As-Sunnah yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka
kami tidak mengetahui maknanya. Tetapi kami bisa memastikan, bahwa firmanfirman Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu tidak akan saling bertentangan, dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak ada yang bertentangan dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala . Ini adalah jawaban yang baik dan benar .

Tetapi hal itu tidak akan dipahami kecuali oleh orang-orang yang diberi taufik oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala , maka Anda jangan meremehkannya, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

“Dan sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan besar.”(Fushshilat:35).

Adapun jawaban mufashshal (rinci) yaitu bahwasanya musuh-musuh Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak memiliki banyak cara untuk menolak agama para rasul yang dengannya mereka menghalang-halangi manusia dari agama. Di antaranya mereka mengatakan : Kami tidak menyekutukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala , bahkan kami bersaksi tidak ada yang menciptakan, memberi rizki dan memberi manfaat atau madharat keculai Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak bisa
memberikan manfaat atau menimpakan bahaya, apatah lagi Syaikh Abdul Qadir  atau lainnya. Tetapi kami adalah orang-orang berdosa, sedangkan orang-orang shaleh itu memiliki kedudukan dan kemulian di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala , karena itu kami meminta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala melalui mereka.”

Untuk menjawabnya adalah seperti yang dikemukakan di muka, yaitu bahwasanya orang-orang yang diperangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , mereka itu juga mengakui dengan apa yang Anda sebutkan, mereka juga mengakui bahwa patung-patung yang mereka sembah itu tidak bisa mengatur suatu apapun, tetapi mereka inginkan dari patung-patung itu (yang biasanya merupakan simbol orang-orang shaleh) kedudukan dan syafa’at di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala .

Kemudian bacakanlah dalil-dalil yg sudah disebutkan dan diterangkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Kitab-Nya10. Jika dia mengatakan : Ayat-ayat (yang Anda sebutkan ) itu adalah ditujukan untuk para penyembah patung-patung, bagaimana Anda menyamakan orang-orang shaleh itu dengan patung-patung? Atau bagaimana Anda menjadikan para nabi itu seperti patung-patung?

Jawabannya adalah seperti di muka. Jika dia mengakui bahwa orang-orang kafir itu bersaksi bahwa seluruh rububiyah adalah milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala , dan bahwa mereka itu tidak menghendaki terhadap apa yang mereka tuju dari sesembahan itu selain syafaat. Namun, jika dia masih bersikeras membedakan antara
perbuatan orangorang kafir itu dengan perbuatan dirinya, maka katakanlah bahwa di antara orang-orang kafir itu ada yang berdoa kepada patung-patung, ada pula yang berdoa kepada para wali, sebagaimana difirmankan Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala )”(Al-Isra:57).

Ada pula yang menyeru kepada Isa bin Maryam dan ibunya, padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman:

“Al- Masih (Isa) putera Maryam itu hanyalah seorang rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, keduanya biasa memakan makanan. Perhatikanlah bagaimana Kami
menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tAnda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). Katakanlah: ‘Mengapa kamu menyembah selain dari pada Allah, sesuatu yang tidak bisa memberi madharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?’ Dan
Allah lah Yang Mah Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(Al-Maidah:75-76).

Kemudian disebutkan pula firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

“Dan (ingatlah) hari (yang diwaktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: ‘Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?’ Malaikat-malaikat itu menjawab: “Maha Suci Engkau,
Engkaulah pelindung kami, bukan mereka, bahkan mereka telah menyembah jin ; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.”(Saba’:40-41).

“Dan (ingatlah), ketika Allah berfirman” ‘Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia : ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?’ Isa menjawab: ‘Maha Suci Engkau , tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.”(Al-Maidah:116).

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber