AQD 03 – PENOPANG MANTAPNYA AQIDAH 12

Faktor Kesebelas

Keyakinan mereka secara totalitas dengan aqidah ini yang mereka beristiqomah di atasnya serta jauhnya mereka dari memperlihatkan pertikaian dan perdebatan. Hal ini merupakan aspek tertinggi tentang urgennya kemantapan di dalam aqidah yang benar, yaitu pemiliknya akan menjadi orang yang yakin dengannya.

Ahlus sunnah memiliki kerelaan dan kepercayaan yang sempurna terhadap agama dan keyakinan yang mereka pegang. Oleh karena itulah ahlus sunnah, tidak seperti kelompok lainnya, tidak memerlukan produk yang ada pada mereka berupa pemikiran dan akal. Sedangkan pelaku hawa nafsu dan bid’ah, anda dapati mereka adalah orang yang labil gemar bepindah-pindah dari pendapat orang yang satu ke orang yang lain, bertanya dan meminta arahan kepada mereka dalam masalah agama, karena mereka merasa ragu, tidak mantap dan tidak tenang.

Adapun Ahlus Sunnah, mereka berada di atas keyakinan yang sempurna, mereka tidak mau menerima percekcokan dan perdebatan di dalam aqidahnya.

Mereka merasa mantap dan tenang dengan aqidahnya dengan kemantapan yang tinggi dan merasa terikat dengan Kitâbullâh dan Sunnah Nabi-Nya Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam. Kitâbullâh, yang tidak datang dari segala sisi dan tidak pula dari belakangnya kebatilan, dan sunnah nabi-Nya yang tidaklah diucapkan dari hawa nafsu, sehingga mereka menjadi tenang dan mantap dengan ketenangan dan kemantapan yang tinggi terhadap aqidah yang mereka yakini. Mereka tidak membutuhkan perdebatan, percekcokan dan sebagainya.

Namun mereka tetap di dalam aqidahnya di atas jalan dan cara yang satu, semenjak dari generasi awal hingga akhir, mereka tidak plin-plan dan tidak goyah, tidak labil dan tidak pula bimbang.

Adapun ahli bathil, maka keadaan mereka berbeda. Allôh Ta’âlâ berfirman :

Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (QS az-Zukhruf : 58)

Anda dapati mereka adalah orang yang goyah dan bimbang, lebih condong kepada pemikiran dan akal manusia dan banyak melakukan kelabilan di dalam agama.

Saya nukilkan di dalam pembahasan ini sejumlah atsar dari para salaf rahimahumullâhu yang sangat besar manfaatnya :

Abū Hudzaifah berkata kepada Abū Mas’ūd :

“Sesungguhnya kesesatan yang paling sesat adalah, anda mengakui sesuatu yang anda ingkari dan mengingkari yang anda akui. Jauhilah sikap labil di dalam agama, karena agama Allôh itu hanya satu.” (al-Ibânah karya Ibnu Baththoh II/505).

‘Umar bin ‘Abdil ‘Azîz berkata :

“Barangsiapa yang menjadikan agamanya hanya untuk perdebatan, maka lebih banyak labilnya.”

Beliau rahimahullâhu juga berkata :

“من عمل بغير علم كان ما يفسد أكثر مما يصلح، ومن لم يعد كلامه من عمله كثرت خطاياه، ومن كثرت خصومته لم يزل يتنقل من دين إلى دين” الإبانة ( 2/504)

“Barangsiapa yang beramal tanpa ilmu, maka ia akan lebih banyak merusak daripada membenahi. Dan barangsiapa tidak memperhitungkan perkataannya sebagai amalnya, maka akan berlimpah dosa-dosanya.

Serta barangsiapa yang banyak berdebat, ia akan senantiasa bersifat labil berpindah-pindah dari satu agama ke agama lainnya.” (al-Ibânah II/504).

Mi’an bin Isâ berkata :

“Pada suatu hari, Mâlik berangkat ke Masjid sedangkan beliau dalam keadaan bersandar pada tanganku.

Kemudian, seorang pria yang disebut dengan Abūl Juwairiyah menemui beliau dan dia adalah seorang yang tertuduh irjâ`, lalu ia berkata : “Wahai Abâ ‘Abdillâh (Imâm Mâlik), dengarkanlah sesuatu dariku, aku akan bicara kepada anda, berargumentasi dan menceritakan pemikiranku.” Imâm Malik bertanya, “Apabila engkau dapat mengalahkanku?”, dia menjawab, “Jika aku dapat mengalahkan anda maka anda harus mengikutiku.”

Imâm Mâlik bertanya kembali : “Apabila ada orang lain yang berbicara kepada kita lalu mengalahkan kita?”, ia menjawab, “kita ikuti dia.” Lantas Imâm Mâlik berkata :

“Wahai hamba Allôh, Allôh telah mengutus Muhammad Shallâllâhu ‘alaihi was Sallam dengan agama yang satu.

Sedangkan aku melihatmu adalah orang yang labil berpindah dari satu agama ke agama lain.”

Perkara agama ini menjadi perkara yang labil menurut mereka berpindah-pindah dari orang yang satu ke orang lain dan dari pemikiran yang satu ke pemikiran lainya.

Dan inilah makna ucapan ‘Umar bin ‘Abdil ‘Azîz yang telah lewat sebelumnya, “Barangsiapa yang menjadikan agamanya hanya untuk perdebatan, maka lebih banyak labilnya.”

Mâlik berkata :

“Adalah orang tersebut (beliau mengisyaratkan kepada salah satu imam salaf tanpa menyebut namanya), apabila datang kepadanya sebagian orang pelaku hawa nafsu, beliau berkata : “Adapun saya, maka saya berada di atas keterangan dari Tuhanku, sedangkan anda dalam keadaan ragu dan mendatangi orang yang juga ragu

seperti anda lalu anda debat.” Imâm Mâlik melanjutkan :

“Imam tersebut berkata : mereka merasa bingung dengan keadaan mereka sendiri kemudian meminta tolong kepada orang yang mengetahui mereka.” (al-Ibânah II/509).

Yaitu (orang yang mengetahui) agama mereka. Merasa rancu dengan keadaan mereka yaitu dengan keraguan dan dugaan para pelaku hawa nafsu dan sebagainya.

Kemudian mereka memohon kepada orang yang mengetahui agama mereka, yang akan menghilangkan keragu-raguan yang menyelimuti mereka, namun mereka datangkan dari pendapat dan hawa nafsu akal seseorang.

Ishâq bin Isâ ath-Thobâ’ berkata :

“Mâlik bin Anas adalah orang yang mencela perdebatan di dalam agama, beliau berkata, “Tiap kali datang kepada kami seseorang yang gemar berdebat dengan orang lain. Kami berkeinginan membantah dengan apa yang diturunkan oleh Jibril kepada Nabi Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam.” (al-Ibânah II/507).

Hasan al-Bashrî berkata :

“Perbendahaaran harta paling bernilai seorang mukmin adalah agamanya. Apabila hartanya ini hilang, maka hilanglah agamanya besertanya. Ia tidak akan mau meninggalkannya untuk orang lain dan tidak pula mempercayakannya.” (al-Ibânah II/509)

Beginilah keadaan ahlus sunnah, tidak ada seorangpun dari mereka yang menyandarkan agama dan aqidahnya kepada akal, hawa nafsu dan pemikiran manusia. Mereka hanya berpegang erat dengan Kitâbullâh dan Sunnah Nabî-Nya Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam, menurut timbangan pemahaman salaful ummah.

Dzakwân berkata :

“Hasan al-Bashrî melarang perdebatan di dalam agama, beliau mengatakan bahwa berdebat itu kerjanya orang yang ragu dengan agamanya.” {al-Ibânah II/519).

Adapun orang yang tidak memiliki keraguan di dalam agamanya, maka ia tidak butuh sedikitpun dengan berbagai bentuk perdebatan.

Hisyâm bin Hasan berkata :

‘Wahai Abâ Sa’îd, kemarilah, saya ingin berdiskusi (baca: berdebat) dengan anda tentang masalah agama.’

Hasan al-Bashrî berkata, “Aku adalah orang yang jelas agamaku, sedangkan anda adalah orang yang sesat agamanya sehingga menjadi kabur.”

Maksudnya adalah, pergilah dan carilah agamamu.

Adapun saya adalah orang yang mantap dengan agamaku, tenang dan mengenalnya. Jadi, aku tidak butuh dengan pedebatan dan percekcokan.

Ahmad bin Sinân berkata :

” جاء أبو بكر الأصم إلى عبد الرحمن بن مهدي فقال: جئت أناظرك في الدين، فقال: إن شككت في شيءٍ من أمر دينك فقف حتى أخرج إلى الصلاة، وإلا فاذهب إلى عملك، فمضى ولم يثبت ” الإبانة ( .(538/ 2

“Abū Bakr al-Ashom mendatangi ‘Abdurrahman bin Mahdî lalu berkata, ‘Saya datang untuk berdiskusi dengan anda tentang masalah agama.’ Ibnu Mahdî menjawab, ‘Jika engkau merasa ragu dengan sesuatu dari agamamu, berhentilah sampai aku keluar untuk untuk sholât, apabila tidak, kembalilah bekerja’, lalu orang tersebut berlalu dan tidak mau menetap.” (al-Ibânah II/538)

Di dalam kisah di atas, menunjukkan bahwa ahlus sunnah menyibukkan diri dengan kebenaran yang mereka pegang, dengan beribadah kepada Allôh Tabâroka wa Ta’âlâ. Ibnu Mahdî berkata kepada Abū Bakr al-Ashom, ‘Jika kamu merasa ragu dengan sesuatu dari agamamu berhentilah sampai aku keluar untuk untuk sholât’, maksudnya adalah, ‘Saya terlalu sibuk dengan ketaatan kepada Allôh, saya mau sholat dulu, berhentilah (di situ) sampai aku keluar untuk sholât dan aku tidak punya urusan denganmu. Jika kau tidak mau kembalilah ke pekerjaanmu. Kemudian orang itu berlalu dan tidak mau menetap.”

Demikianlah sejumlah nukilan yang bermanfaat yang aku nukil dari kitab al-Ibânah karya Ibnu Baththah al-‘Ukburî rahimahullâhu. Buku ini adalah buku yang agung di dalam pembahasan ini, dan kesemua nukilan dari ulama salaf rahimahullâhu ini menjelaskan akan mantapnya agama mereka, stabilnya jiwa mereka dan kuatnya penjagaan dan perhatian mereka terhadap agama.

Mereka tidak menyandarkan agamanya kepada perdebatan dan percekcokan, atau pemikiran yang menyimpang dan lain sebagainya. Hal inilah yang menjadikan faktor utama mantapnya mereka terhadap kebenaran.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber