Faktor Kesepuluh

Hubungan mereka yang baik kepada Allôh, kuatnya ikatan mereka kepada-Nya dan bersandarnya mereka hanya kepada-Nya. Hal ini adalah perkara yang telah saya tunjukkan di dalam pembuka di awal. Oleh karena taufîq itu mutlak berada di tangan-Nya Subhânahu wa Ta’âlâ, maka mereka membaguskan hubungan mereka dengan Allôh, memperkuat bersandarnya mereka kepada-Nya, meminta hanya kepada-Nya, memohon pertolongan dan berdoa hanya kepada-Nya, serta meminta kepada-Nya kemantapan.

Mereka mencontoh hal ini dari jalan nabi mereka Sholawâtullâhi wa Salâmuhu ‘alaihi.

Termasuk doa nabî Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam adalah :

 “Ya Allôh, aku memohon kepada-Mu petunjuk dan arahan yang benar”

Beliau juga pernah berdoa :

”Ya Allôh, aku meminta kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian dan kecukupan.”

Beliau juga pernah berdoa :

”Ya Allôh anugerahkan kepada jiwa kami ketakwaannya, sucikan jiwa kami karena Engkau adalah sebaik-baik yang mensucikan jiwa kami, Engkaulah yang menguasai jiwa kami dan mengaturnya.”

Beliau juga berdoa :

”Ya Allôh perbaikilah agamaku yang mana ia merupakan pelindung urusanku, perbaikilah duniaku yang merupakan tempat pencaharianku, perbaikilah akhiratku yang merupakan tempat kembaliku, jadikanlah kehidupan sebagai tambahan bagiku di dalam segala kebaikan dan jadikanlah kematian sebagai tempat istirahat bagiku dari segala keburukan.”

Nabi Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam juga berdoa :

 “Ya Allah, Tuhan Jibrail, Mikail dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Tuhan yang mengetahui yang ghaib dan nyata. Engkau yang menjatuhkan hukum (untuk memutuskan) apa yang mereka (orang-orang kristen dan yahudi) pertentangkan. Tunjukkanlah aku pada kebenaran apa yang dipertentangkan dengan seizin dariMu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus bagi orang yang Engkau kehendaki

Beliau juga berdoa “

 “Ya Allôh, hanya kepada-Mu-lah aku berserah diri, kepada-Mu-lah aku beriman dan kepada-Mu-lah aku bertawakkal. Hanya kepada-Mu aku bertawakkal dan kepada-Mu lah aku kembali serta dengan-Mu aku berdebat (dengan orang kafir). Ya Allôh, aku memohon perlindungan dengan keperkasaan-Mu, yang tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan Engkau, dari ketergelinciran. Engkau adalah dzat yang maha hidup tidak pernah mati, sedangkan manusia dan jin pasti akan binasa.”

Beliau juga pernah berdoa :

 “Ya Allôh, yang maha membolak-balikkan hati. Mantapkan hati kami di atas agama-Mu.”

Beliau juga berdoa :

 “Ya Allôh, berikanlah kami pertunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk.”

Beliau juga pernah berdoa :

 “Ya Allôh hiasilah kami dengan perhiasan keimanan dan jadikanlah kami orang yang memberikan petunjuk lagi mendapatkan petunjuk.”

[Semua doa di atas diriwayatkan oleh Muslim di dalam Shahîh-nya kecuali tiga doa terakhir. Yang pertama dan kedua diriwayatkan Ahmad (/301) dan (1/200) dan ketiga diriwayatkan an-Nasâ`î (no. 1305).

Para pengikut nabi Sholawâtullâhi wa Salâmuhu ‘alaihi berpegang teguh dengan manhaj beliau, mereka senantiasa menambatkan (hati mereka) dengan Allôh Tabâroka wa Ta’âlâ di setiap waktu dan kapan saja.

Mereka meminta kepada Allôh kemantapan, bimbingan, pertolongan dan taufiq, oleh karena itulah Allôh memberikan taufiq-Nya kepada mereka, menolong dan membimbing mereka, memelihara dan menjaga mereka dengan pemeliharaan dan pertolongan-Nya. Penjagaan dan taufiq Allôh Subhânahu wa Ta’âlâ hanyalah mutlak berada di tangan-Nya semata.

Kemudian, sesungguhnya ikatan mereka kepada Allôh Tabâroka wa Ta’âlâ mewariskan kepada mereka, ibadah yang benar dan perangai serta akhlâq yang lurus. Oleh karena itulah, sesungguhnya diantara faidah aqidah yang terpuji dan pengaruhnya yang agung, ia akan terpancar di dalam perbuatan dan perangai seorang manusia, semakin kuat, tinggi, tumbuh berkembang dan semakin suci. Dan ini merupakan berkahnya aqidah yang benar dan termasuk manfaat serta faidahnya yang besar.

Adapun aqidah yang menyimpang, maka ia merupakan kecelakaan bagi pemiliknya. Oleh karena itulah, rusaknya aqidah berakibat kepada rusaknya perbuatan dan perangai, dan hal ini tentu saja merupakan keyakinan yang mencelakakan. Barangsiapa yang meneliti terutama terhadap para pembesar kebatilah dan penyeru kesesatan, ia akan mendapatkan ciri ini secara nyata dan jelas pada mereka. Tidak tampak pada mereka perhatian, kepedulian dan penjagaan kepada ibadah. Tidak tampak pula pada mereka perangai yang terang, sempurna lagi jelas. Sekiranya ia mendapatkan sedikit dari hal dari hal-hal ini, maka yang ada pada ahlus sunnah, berupa kebenaran dan keistiqomahan terhadapnya, lebih besar dan jauh lebih besar.

Dan ini merupakan pengaruh istiqomah di atas aqidah (yang benar) dan menambatkan (hati mereka) kepada Allôh Tabâroka wa Ta’âlâ.

 

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

AQD 03 – PENOPANG MANTAPNYA AQIDAH 11

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest