Faktor Ketujuh

Ketujuh : Termasuk faktor mantapnya mereka di atas keyakinan yang haq adalah, mereka mengikatkan diri dengan pemahaman as-Salaf ash-Shâlih, para sahabat dan yang mengikuti mereka dengan lebih baik. Mereka disertai dengan perkara-perkara (yang disebutkan) sebelumnya, menyandarkan diri di dalam memahami

nash (teks dalil) dan pengetahuan akan dilâlah (penunjukan)-nya kepada pemahaman sahabat dan generasi yang mengikuti mereka dengan lebih baik.

Karena pemahanan itu terkadang sebagiannya doyong/miring dan sebagiannya lagi menyeleweng. Akan tetapi orang yang mengambil agamanya yang murni lagi segar dari Nabî Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam secara langsung dengan disertai dengan hati yang bersih, akal yang sehat dan keinginan serta tujuan yang baik, barangsiapa yang demikian ini keadaannya maka ia memperoleh ilmu, keselamatan dan hikmah yang sejati.

Oleh karena itu ahlus sunnah wal jamâ’ah berpegang erat di dalam memahami nash-nash dan dalil dengan pemahaman sahabat. As-Sijzî rahimahullâhu berkata di dalam buku beliau yang berjudul Ar-Roddu ‘ala Man Ankaro al-Harf wa ash-Shout di dalam mensifati ahlus sunnah sebagai berikut :

“Mereka adalah kaum yang mantap di atas aqidah yang para as-Salaf ash-Shâlih rahimahumullâhu menukilkan kepada mereka dari Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam atau dari sahabat beliau radhiyallâhu ‘anhum mengenai perkara-perkara yang tidak disebutkan oleh nash al-Qur`ân dan (sunnah) Rasūl Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam. Mereka adalah para imâm yang Allôh ridhâ kepada mereka, dan kita diperintahkan untuk mengikuti jejak (atsar) mereka dan meneladani tuntunan (sunnah) mereka. Hal ini memperlihatkan dengan jelas akan diperlukannya iqômatu burhân (menegakkan hujjah yang terang), mengambil sunnah dan berkeyakinan dengannya, merupakan sesuatu hal yang tidak ada

kebimbangan akan kewajibannya.” (Ar-Roddu ‘ala Man Ankaro al-Harf wa ash-Shout hal. 99)

Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah rahimahullâhu berkata:

ولا تج د إماماً في العلم والدين، كمالك والأوزاعي والثوري وأبي حنيفة والشافعي وأحمد بن حنبل وإسحاق بن راهويه، ومثل الفضيل وأبي سليمان ومعروف الكرخي وأمثالهم، إلا وهم مصرحون بأن أفضل علمهم ما كانوا فيه مقتدين بعلم الصحابة، وهم يرون أن الصحابة فوقهم في جميع أبواب الفضائل والمناقب ” شرح العقيدة الأصفهانية ص128

“Anda tidak akan mendapatkan seorang imam pun di dalam ilmu dan agama, sebagaimana Mâlik, al-Auzâ’î, ats-Tsaurî, Abî Hanîfah, asy-Syâfi’î, Ahmad bin Hanbal dan Ishâq bin Rohawaih, atau semisal al-Fudhail dan Abu Mâlik atau yang lebih dikenal dengan al-Kurkhî, atau yang semisal mereka, melainkan mereka menjelaskan dengan tegas bahwa seutama-utama ilmu dan amal mereka adalah yang meniti ilmu dan amal para sahabat, mereka beranggapan bahwa para sahabat adalah kaum yang berada terdepan di atas mereka di segala bab keutamaan dan kemuliaan.” (Syarhul Aqîdah al-Ashfahânîyah hal. 128).

Al-Ajurrî rahimahullâhu berkata di dalam kitab beliau “Asy-Syarî’ah” :

” علامُة من أراد الله عز وجل به خيراً سلوك هذه الطريق، كتاب الله عز وسنن أصحابه رضي الله عنهم ومن تبعهم ، وجل وسنن رسوله بإحسان رحمة الله تعالى عليهم، وما كان عليه أئمة المسلمين في كل بلد، إلى آخر ما كان من العلماء؛ مثل الأوزاعي وسفيان الثوري ومالك بن أنس والشافعي وأحمد بن حنبل والقاسم بن سلام، ومن كان على مثل طريقتهم، ومجانبة كل مذهبٍ لا يذهب إليه هؤلاء العلماء ” الشريعة .(301/1)

“Tanda-tanda orang yang Allôh Azza wa Jalla kehendaki kebaikan baginya adalah, orang yang meniti di atas jalan Kitâbullâh Azza wa Jalla dan sunnah Rasūl-Nya Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam, sunnah para sahabat beliau radhiyallâhu ‘anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan lebih baik rahmatullâhi Ta’âlâ ‘alaihim, juga (meniti) jalan yang dilalui oleh para imam kaum muslimin di seluruh negeri sampai generasi akhir para ulama, semisal al-Auzâ’î, Sufyân ats-Tsaurî, Mâlik bin Anas, asy-Syâfi’î, Ahmad bin Hanbal, al-Qâsim bin Sallâm, dan siapa saja yang berada di atas metode mereka dan menjauhi setiap madzhab yang tidak bermadzhab dengan para ulama tersebut.” (asy-Syarî’ah I:301).

Ibnu Qutaibah rahimahullâhu berkata dengan sebuah perkataan yang anggun di dalam bab ini :

” ولو أردنا – رحمك الله – أن ننتقل عن أصحاب الحديث، ونرغب عنهم إلى أصحاب الكلام، ونرغب فيهم؛ لخرجنا من اجتماعٍ إلى تشتت، وعن نظام إلى تفرق، وعن ُأنسٍ إلى وحشة، وعن اتفاق إلى اختلاف). تأويل مختلف الحديث ص (16

“Sekiranya kita menghendaki –semoga Allôh merahmati anda- beranjak dari (manhaj) ahli hadîts dan berpaling dari mereka menuju (manhaj) ahli kalâm dan mencintai mereka, niscaya kita pasti akan keluar dari persatuan menuju perselisihan, dari keteraturan menuju perpecahan, dari kebahagiaan menuju kesengsaraan dan dari kesepakatan menuju pertikaian.” (Ta’wîl Mukhtalafil Hadîts hal. 16).

Hal ini menjelaskan bahwa tidak mungkin kemantapan akan diperoleh melainkan dengan berpegang secara sempurna terhadap faham as-Salaf ash-Shâlih rahimahumullâhu, Allôh Tabâroka wa Ta’âlâ berfirman :

Dan barangsiapa yang menentang Rasūl sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS an-Nisâ1 : 115).

 

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

 

AQD 03 – PENOPANG MANTAPNYA AQIDAH 08

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest