Faktor Keenam

Keenam : diantara faktor yang memantapkan dan selamatnya aqidah di dalam jiwa ahlus sunnah adalah, bahwa jiwa ahlus sunnah merasa begitu tenang dengan aqidah ini. Setiap orang dari mereka merasakan kedamaian di dalam hatinya, ketenangan di dalam jiwanya, kesenangan dan kebahagiaan, bahkan juga kegembiraan dan kelezatan dengan aqidah yang haq ini, yang Allôh Tabâroka wa Ta’âlâ anugerahkan kepadanya.

Hal ini tidak akan dapat ditemukan pada seorang pengikut hawa nafsu dan amatlah jauh dirinya. Allôh Tabâroka wa Ta’âlâ berfirman :

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi

tenteram.” (QS ar-Ra’du : 28)

Di dalam jiwa mereka terdapat ketenangan yang sempurna dan kedamaian yang besar terhadap aqidah yang benar ini, yang mereka peroleh dari Kitab Rabb mereka dan sunnah Nabi mereka Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam. Berkenaan hal ini, Ibnul Qoyyim rahimahullâhu berkata di dalam kitabnya ash-Showâ’iqul Mursalah :

” سكون القلب إلى شيء ووُثوقه به، وهذا لا يكون إلا مع اليقين، هو اليقين بعينه، ولهذا تجد قلوب أصحاب الأدلة السمعية – يعني أهل السنة – مطمئنة بالإيمان بالله وأسمائه وصفاته وأفعاله وملائكته واليوم الآخر، لا يضطربون في ذلك ولا يتنازعون فيه “. الصواعق المرسلة .(741/2)

“Tetap dan mantapnya hati terhadap sesuatu, hal ini tidaklah akan terjadi melainkan disertai dengan keyakinan, bahkan dengan benar-benar yakin (‘ainul yaqîn). Karena itulah anda dapati hatinya ahlus sunnah, merasa tenang dengan iman kepada Allôh, Asmâ` dan Shifât-Nya, serta perbuatan-Nya, kepada malaikat-Nya

dan hari akhir. Tidak goyah ketenangan mereka di dalam keimanan ini dan tidak pula bimbang.” (Ash-Showâ’iqul Mursalah II/741)

Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah rahimahullâhu berkata:

” وأما أهل السنة والحديث فما يعلم أحد من علمائهم ولا صالح عامتهم رجع قط عن قوله واعتقاده، بل هم أعظم الناس صبراً على ذلك، وإن امتحنوا بأنواع المحن، وُفتنوا بأنواع الفتن، وهذه حال الأنبياء وأتباعهم من المتقدمين ” مجموع الفتاوى  (50/4)

“Adapun ahlus sunnah dan ahli hadits, tidak ada seorangpun ulama atau orang awam mereka yang shalih, yang diketahui menarik kembali pendapat dan aqidahnya sama sekali. Bahkan mereka adalah manusia yang paling sabar dengan pendapat dan aqidahnya, walaupun mereka diuji dengan berbagai ujian dan fitnah. Dan demikian inilah keadaan para nabi dan para pengikut mereka terdahulu.”

‘Abdul Haq al-Isybîlî rahimahullâhu berkata :

” واعلم أن سوء الخاتمة أعاذنا الله تعالى منها لا تكون لمن استقام ظاهره وصلح باطنه، ما سمع ذا، ولا  علم به ولله الحمد، وإنما تكون لمن له فساد في العقد، أو إصرارٍ على الكبائر، وإقدام على العظائم” (نقله ابن القيم في الجواب الكافي ص: 198)

“Ketahuilah, bahwasanya sū’ul khâtimah –semoga Allôh Ta’âlâ melindungi kita darinya- tidak pernah didengar dan diketahui terjadi pada orang-orang yang lurus zhahirnya dan baik bathinnya, dan hanya milik Allôhlah segala pujian. Sesungguhnya ia hanya terjadi kepada orang yang memiliki aqidah yang rusak, terus menerus di dalam dosa besar, dan mendahulukan keangkuhan.” (Dicuplik oleh Ibnul Qoyyim di dalam al-Jawâbul Kâfî hal.198).

Inilah diantara faktor utama yang dapat menghantarkan kepada mantapnya ahli kebenaran, jiwa dan hati mereka merasa tenang terhadap kebenaran, serta merasa enjoy secara sempurna dengannya. Lantas mengapa mereka menyeleweng darinya? Mengapa mereka masih mencari selainnya padahal mereka merasa tenang dan enjoy dengan sebenar-benarnya terhadapnya?

 

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

 

AQD 03 – PENOPANG MANTAPNYA AQIDAH 07

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest