Muqoddimah

Dengan nama Allôh yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Segala puji hanyalah milik Allôh Rabb (Pemelihara) Alam semesta, dan akibat yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. Semoga Sholâwat dan Salâm senantiasa terlimpahkan kepada penghulu para rasūl, Nabî kita Muhammad, kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau.

Adapun setelah itu :

Sesungguhnya, ‘Aqîdah Islâmîyah yang murni lagi suci, yang digali dari al-Kitâb dan as-Sunnah, memiliki kedudukan yang tinggi lagi teratas di dalam agama, bahkan kedudukannya bagaikan kedudukan suatu pondasi bagi bangunan, bagaikan kedudukan hati terhadap jasad dan kedudukan akar bagi pohon.

Allôh Ta’âlâ berfirman :

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah Telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (QS Ibrâhîm : 24).

Jadi, perkara aqidah ini merupakan perkara yang sangat besar, kedudukannya tinggi dan statusnya mulia. Perkaranya tertanam di dalam jiwa dan terpendam di dalam hati pemiliknya, sehingga dari aqidah-lah mereka beranjak dan condong kepadanya serta demi aqidah pula-lah mereka membela. Begitu tingginya kedudukan aqidah di dalam jiwa dan hati mereka, sehingga menyebabkan hati menjadi mantap dan jiwa menjadi kokoh. Hal ini membuahkan dan membentuk perangai yang baik, manhaj yang lurus, kesempurnaan di dalam amalan, ketekunan di dalam ketaatan dan ibadah, dan menetapi perintah Allôh Tabâroka wa Ta’âlâ. Setiap kali aqîdah ini semakin kokoh tertanam di dalam jiwa dan semakin mantap terpendam di dalam hati mereka, pada

saat itulah aqidah akan membawa mereka kepada setiap kebaikan dan mendorong mereka kepada segenap keberhasilan, kebaikan dan keistiqomahan.

Begitulah, mereka mencurahkan perhatian yang besar terhadap aqidah, dan semakin bertambah perhatian dan pemeliharaan mereka terhadap aqidah melebihi semua hal yang urgen dan penting. Aqidah menurut mereka lebih urgen ketimbang makanan, minuman, pakaian dan seluruh kebutuhan mereka, karena aqidah merupakan hakikat hati mereka. Allôh Ta’âlâ berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (QS al- Anfâl : 24)

Aqidah adalah kehidupan hati mereka yang sejati merupakan pondasi tumbuhnya amalan, lurusnya perangai dan baiknya manhaj dan cara (beragama) mereka. Karena itulah, perhatian mereka semakin besar terhadap aqidah, baik secara keilmuan maupun keyakinan, sehingga membuahkan hasil berupa kesungguhan, ketekunan, keistiqomahan dan penjagaan di dalam mentaati Allôh Tabâroka wa Ta’âlâ.

Sesungguhnya, Aqidah Islâmiyah yang shahih (benar) lagi murni dan suci, merupakan perkara yang paling penting diantara hal-hal penting lainnya dan merupakan kewajiban yang paling ditekankan. Untuk itulah perhatian terhadap aqidah haruslah didahulukan daripada hal-hal yang penting dan urgen lainnya. Apabila kita memperhatikan sirah (sejarah) salaf (pendahulu) kita yang terbaik –semoga Allôh merahmati dan menempatkan mereka ke dalam surga, dan semoga Allôh membalas (segala jerih payah) mereka terhadap kaum muslimin dengan balasan yang baik- kita melihat bagaimana besarnya perhatian dan kesungguhan mereka

terhadap aqidah, dan bagaimana mereka mendahulukan masalah aqidah dengan perhatian dan kesungguhan melebihi semua hal. Karena aqidah adalah keinginan mereka terbesar, puncak ambisi dan semulia-mulianya tujuan mereka.

Bentuk perhatian mereka terhadap aqidah melalui upaya dan kesungguhan yang bermacam-macam. Diantara bentuk perhatian mereka terhadap aqidah yang merupakan faktor yang turut menjaga kokoh dan kekalnya aqidah adalah, karya tulis mereka yang sangat bermanfaat dan buku-buku berfaidah yang menetapkan, menjelaskan dan menerangkan masalah aqidah serta menyebutkan argumentasi dan dalil-dalilnya.

Membelanya dari tipu daya para penipu, permusuhan para agresor, pengingkaran kaum atheis dan penyelewengan kaum kaum ekstremis serta semisalnya yang acap kali mengusik permasalahan seputar aqidah dan menjadi sasarannya.

Para salaf –rahimahumullâhu-menjalankan peran yang agung ini dengan kesungguhan yang luar biasa dan pengamalan yang besar, sebagai bentuk pengkhidmatan dan sokongan terhadap aqidah dan menegakkan kewajiban besar. Mereka menulis tentang aqidah sebagai penjelas dan penerang, berargumentasi dan berdalil dengan ratusan buku, bahkan ribuan buku baik yang panjang maupun yang ringkas, baik yang komprehensif mencakup segala bab maupun yang khusus hanya mencakup satu aspek dari aspek-aspek aqidah, baik yang meletakkan dasar bagi al-Haq dan kebenaran maupun yang membantah penyeleweng lagi pendusta

(yang tak dapat dipercaya). Kemudian, orang yang belakangan mengambil aqidah dari pendahulu mereka yang terang seterang matahari di siang hari bolong, yang begitu jelasnya tanpa ada kesamaran dan kekaburan, disebabkan argumentasinya, keselamatan dan kekuatan dalilnya, yang begitu terang dan jelasnya.

Kaum mu’minin ahli ittibâ’ mewarisinya dari generasi ke generasi dan dari waktu ke waktu. Setiap generasi menjaga dan memelihara aqidahnya dengan upaya yang begitu besar, kemudian menyampaikannya kepada generasi setelahnya apa adanya tanpa perubahan, penggantian maupun penyelewengan dan lain sebagainya. Generasi setelahnya menjaga dan memperhatikan aqidah sebagaimana pendahulu mereka menjaga dan memperhatikannya. Demikianlah aqidah ini terwarisi dari generasi ke generasi, dan akan senantiasa ada sekelompok dari ummat Muhammad Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam yang berada di atas kebenaran dan mendapatkan pertolongan (kemenangan), tidaklah mencederai mereka orang-orang yang mencerca dan menyelisihi mereka, sampai datangnya hari kiamat.

Tema pembahasan kita ini adalah tentang mantapnya aqidah as-Salaf ash-Shâlih –rahimahumullâhu– dan terbebasnya (selamatnya) dari segala bentuk perubahan, seiring dengan perubahan waktu dan zaman yang panjang. Ia adalah aqidah yang didakwahkan oleh Nabi ‘alaihi ash-Sholâtu was Salâm dan aqidah yang para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan lebih baik berada di atasnya, yang mana mereka saling menyampaikan satu dengan yang lainnya, dan saling mewariskannya hingga sampai di zaman kita dalam keadaan yang murni lagi suci.

Ironinya, banyak kaum dan mayoritas manusia menyimpang dan menyeleweng dari aqidah (yang benar). Jalan mereka saling berpecah belah dan merekapun menyimpang dari jalan yang benar lagi lurus.

Nabi yang mulia ‘alaihi ash-Sholâtu was Salâm telah mengisyaratkan bahwa kejadian ini akan berlangsung dan terjadi. Beliau bersabda :

إنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافاً كثيراً، فعليكم بسنتي وسنن الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي، تمسكو بها وعضا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور؛ فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة ” رواه أبو داود ( 4607 )، والترمذي ( 2676 ).

“Sesungguhnya barangsiapa yang masih hidup diantara kalian sepeninggalku nanti, niscaya akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus lagi terbimbing setelahku. Genggamlah sunnah tersebut dan gigitlah dengan gigi geraham.

Jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan (di dalam agama), karena setiap perkara yang diada-adakan (di dalam agama) itu ada bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.” [HR Abū Dâwud (4607) dan at-Turmudzî (2676)].

Beliau bersabda di dalam hadits yang lain :

وستفترق هذه الأمُة على ثلاث وسبعين فرقة، كلها في النار إلا واحدة ( رواه أحمد  4/102، و  وأبو داود 4597، وصححه الألباني في السلسلة الصحيحة ( 203 )

“Dan umat ini akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga kelompok dan semuanya masuk neraka kecuali satu.” [HR Ahmad (4/102) dan Abū Dâwud (4597).

Dishahihkan oleh al-Albânî di dalam as-Silsilah ash- Shahîhah (203)].

Kelompok yang satu itu adalah kelompok yang selamat agamanya, lurus manhajnya dan shahih aqidahnya.

Karena mereka mengambilnya dari sumbernya yang masih murni dan mata airnya yang tidak tercemar dengan suatu kekeruhan sedikitpun. Mereka mengambilnya dari Kitâbullâh dan Sunnah Nabi-Nya Shalawâtullah wa Salâmuhu ‘alaihi. Keberuntungan mereka di dalam aqidah dan semua perkara agama terletak pada keselamatan, ilmu, hikmah dan kemuliaannya, sehingga mereka lebih berhak menjadi kelompok yang selamat itu dan sebagai ahlinya. Karena mereka mengambil aqidahnya dari sumbernya yang utama dan mata airnya, yaitu Kitâb Rabb mereka dan sunnah Nabi mereka Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam. Allôhpun menyelamatkan mereka sehingga mereka tidak direnggut oleh hawa nafsu dan tidak ditelan oleh syubuhât. Mereka tidak condong kepada akal, pemikiran, hati dan perasaan atau yang semisalnya dalam rangka mencari pengetahuan aqidah yang benar. Mereka hanya berpijak pada Kitâbullâh dan Sunnah Nabi-Nya Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam.

Tidak diragukan lagi bahwa ada berbagai faktor yang menjadi penyebab langgengnya aqidah, keselamatan dan kemantapannya di dalam diri pemiliknya dengan taufik dari Allôh Subhanahu wa Ta’âlâ, karena hanya Allôh-lah sang pemberi taufik satu-satunya lagi maha lemah lembut. Di tangan-Nya berada segala keutamaan yang ia anugerahkan kepada siapa saja yang Ia kehendaki dan Allôh Subhanahu wa Ta’âlâ adalah maha pemilik keutamaan yang agung.

Maka, taufik Allôh, petunjuk, hidayah dan pertolongan-Nya kepada ahlus sunnah merupakan perkara terbesar yang dapat mewujudkan keselamatan mereka, dan hal ini pulalah yang menjadikan aqidah ini kekal di dalam jiwa-jiwa mereka.Dan Allôh adalah maha pemelihara terbaik lagi yang paling welas asih.

Oleh karena itu, seharusnyalah bagi setiap muslim memperkuat hubungannya dengan Allôh, senantiasa memohon kepada-Nya agar diberikan pertolongan, taufik, petunjuk dan keselamatan, karena semua perkara ini berada di tangan-Nya Tabâroka wa Ta’âlâ :

Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah Aku bertawakkal dan Hanya kepada-Nya-lah Aku kembali.” (QS Hūd : 88)

Tidak diragukan lagi, bahwa ada banyak faktor setelah taufik dari Rabb Jalla wa ’Alâ dan penjagaan-Nya Subhânahu yang menjadi faktor penyebab yang dapat mengokohkan, melanggengkan dan memantapkan aqidah ini ke dalam jiwa pemiliknya serta selamatnya dari perubahan, ketidaktetapan dan penyelewengan.

Tidak diragukan pula bahwa termasuk hal yang bermanfaat dan berfaidah bagi seorang muslim di dalam hidupnya, adalah berupaya memahami faktor-faktor penyebab yang dapat mengokohkan dan menyelamatkan, memelihara dan menjaga aqidah di dalam dirinya dengan sebaik-baik penjagaan sembari

tetap memohon pertolongan kepada Allôh Tabâroka wa Ta’âlâ atas semua hal ini.

Ada beberapa hal yang dapat saya ringkaskan setelah mencermati dan mengobservasi pendapat para ulama rahimahumullâhu di dalam bab yang agung ini, yaitu banyak faktor yang dapat menghantarkan kepada kemantapan dan langgengnya aqidah di dalam diri pemiliknya dan terbebasnya dari segala bentuk perubahan dan penyimpangan.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

AQD 03 – PENOPANG MANTAPNYA AQIDAH 01

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest